Nugroho Suksmanto, siapa sih pemilik nama ini. Sepertinya masih asing dalam dunia penulisan, khususnya karya Sastra. Tapi bukunya “Petualangan Celana Dalam” diterbitkan Gramedia, penerbit yang memiliki nama besar di Indonesia. Jangan-jangan?

Pertanyaan dan (kemudian) kecurigaan itulah yang barangkali muncul dalam benak orang ketika pertama kali mendengar nama penulis buku kumpulan cerpen (kumcer) “Petualangan Celana Dalam” yang baru-baru ini diluncurkan di Semarang. Read the rest of this entry »

Advertisements

KEMATIAN pengarang yang diwacanakan Roland Barthes pada 1967 tak habis-habis diperbincangkan. Selain Michael Foucault, boleh jadi sudah ribuan orang mengkritik atau mengamini tesis filsuf dan kritikus Prancis itu, baik lisan maupun tulisan.

Selasa (6/3) malam, ikhwal kematian pengarang itu kembali didiskusikan dalam acara Ngobrol Sastra dan Rerasan Budaya di joglo Fakultas Sastra Undip, Jalan Hayamwuruk 4, Semarang. Belasan peminat sastra menghadiri perhelatan bertajuk “Benarkah Pengarang Sudah Mati?” yang diselenggarakan buletin sastra Hysteria dan Komunitas Sendangmulyo itu.

Dalam “The Death of the Author”, Barthes mengemukakan, pengarang seharusnya lesap ke dalam teks untuk kemudian menghilang. Jadi, ketika pembaca datang untuk memaknai teks, ia tak lagi menemukan jejak pengarang. Teks yang lahir menghalangi jarak pandang pembaca ke pengarang. Read the rest of this entry »

“Jika kamu menemukan kebahagiaan di hutan, kembalilah dan ajarkan padaku tentang kebahagian itu. Jika hal itu mengecewakanmu, kembalilah dan kita akan membuat korban persembahan pada para dewa bersama-sama. Sekarang pergilah dan ciumlah ibumu, dan beritahukan kepadanya ke mana kau akan pergi,” pesan sang Brahmana kepada Sidharta yang ingin ke hutan untuk bertapa bersama para Shramana.

Sidharta adalah tokoh dalam novel dengan judul yang sama karya Hermann Hesse, penerima Nobel Sastra 1946. Sidharta muda telah membuat ayahnya yang seorang Brahmana cemas karena anak semata wayangnya itu ingin pergi ke hutan untuk bertapa dan bergabung bersama para Shramana.

Bisa dimengerti jika orang tua cemas ketika anaknya ingin menempuh jalan pencarian. Bukan semata karena harus berpisah dengan si anak, tapi jalan pencarian yang penuh resiko membuat setiap orang tua khawatir akan keselamatan anaknya.

Sidharta adalah potret seorang pemuda yang haus akan pengetahuan. Dia akan terus mencari tanpa pernah menemukan ketetapan. Ia menolak untuk mengimani setiap ajaran dari para guru yang ditemuinya. Ditinggalkannya Shramana kemudian bertemu dengan Sang Budha Agung yang namanya sudah tersohor dan ratusan hingga ribuan orang berdatangan untuk mendengarkan ceramahnya.

Namun setelah bertemu dengan sang budha, Sidharta tetap saja tak dapat menetapkan hatinya untuk menjadi pengikut sang Gotama. Menurutnya kebijakan hidup tak bisa diajarkan, tapi dia harus dicari dan dialami sendiri ole Sang Pencari.

Jika Gotama menemukan kebijakan hidupnya dari hasil pencariannya sendiri, maka siapapun yang ingin menjadi sepertinya harus menempuh jalan pencarian serupa. Pengalaman spiritual harus dialami dan ia tidak bisa diajarkan. Itulah sebabnya Sidharta meninggalkan ajaran Sang Budha Agung Gotama. Sidharta tak yakin kendati dirinya menjadi pengikut Gotama dan mengamalkan ajaran-ajarannya, ia dapat menundukkan egonya.

Yang mengejutkan, setelah menolak menjadi pengikut Gotama, Sidharta keluar dari hutan dan berguru pada Kemala. Siapakah gerangan Kemala itu? Sang Guru Sidharta ini adalah seorang pelacur yang pertama kali dijumpainya ketika dirinya tiba di perkampungan. Kedengarannya memang sangat naïf, bagaimana mungkin seorang Shramana yang telah melalui jalan spiritualnya dengan bertapa selama bertahun-tahun, namun kini hendak berguru dan mengabdi menjadi murid seorang pelacur?

Sidharta ingin belajar bagaimana menjalani hidup seperti orang awam. Kehidupan macam ini sudah lama ia tinggalkan semenjak dirinya menjadi Shramana.

Dia belajar banyak dari Kemala, bagaimana menghasilkan uang, bagaimana menjalankan urusan dunia. Dia berhasil mengelola sebuah usaha dagang milik salah seorang saudagar kaya, namun dia tak pernah berhasrat untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Dia ingin bisa berpakaian bagus dan punya cukup uang untuk disetorkan kepada Kemala. Dua hal ini sudah lebih dari cukup bagi Sidharta.

Kendati Sidharta melakukan pekerjaan duniawi itu demi Kemala, namun dia tak pernah berhasrat untuk memiliki Kemala sesungguhnya. Dia tak ingin mengikatkan hatinya kepada siapapun, kecuali menuruti kehendak pikirannya sendiri. Walau dirinya menjadi murid pelacur, namun jiwanya masih tetap menjadi milik seorang Shramana.

Lambat laun hasrat untuk memiliki harta dan segala pernik keduniawian mulai menggerogoti jiwa Shramananya. Ketika ia menyadari hal ini, betapa dirinya sangat menyesali ketersesatannya. Segera saja ia meninggalkan perkampungan itu, tanpa bekal apapun kecuali sepotong pakaian dan sepatu mewah yang dikenakannya.

Ia menemui seorang juru sampan yang menyeberangkannya beberapa tahun lalu. Sang juru sampan tak mengenalinya lagi karena Sidharta muda yang dulu ditemuinya mengenakan pakian Shramana dengan rambut yang memanjang, kini datang dengan pakian yang mewah dan rambutnya yang dicukur rapi.

Dengan ketahanan mendengarkan yang luar biasa, Vasudewa si juru sampan tua itu mendengarkan keluh kesah Sidharta hingga menjadi seperi sekarang ini.
Sidharta mengajukan permohonan untuk menjadi murid si juru sampan. Darinya Sidharta belajar bagaimana sungai bisa mengajarkan manusia akan ketenangan hidup. Bagaimana sungai akan menertawakan manusia yang tampak ramai, tampak alim, namun kosong dalam pemenuhan spiritualnya.

Bertahun-tahun Sidharta belajar dari sungai. Di tempat itu ia menemukan kehidupannya yang baru bersama Vasudewa. Mereka tak banyak bercakap, namun keduanya saling memahami dalam kediaman.

Ketenangan Sidharta kembali terusik ketika anak hasil hubungannya dengan Kemala ikut tinggal bersamanya. Anak itu terpisah dari ibunya yang pinsan setelah dipatuk ular. Kesabaran Sidharta untuk selalu mengalah kepada anaknya, meski si anak kerap berlaku kasar kepadanya, membuat batinnya menjadi tak tenang.

Vasudewa menyarankan agar Sidharta mengembalikan si anak ke rumah ibunya. Anak itu tak terbiasa hidup dalam kesederhanaan seperti yang dijalani oleh kedua orang tua yang tinggal di gubug itu. Dia sudah terbiasa hidup dilayani oleh para pembantu. Memaksakan si anak tinggal di gubug itu berarti menyiksa si anak, dan juga Sidharta.

Suatu hari si anak kabur dengan menggunakan sampan Vasudewa dan membawa serta kantong berisi uang hasil menyeberangkan orang-orang yang melewati sungai. Sidharta segera menyusul anaknya. Setelah memastikan si anak telah sampai di rumah ibunya dengan selamat, Sidharta kembali ke gubug juru sampan. Berhari-hari Sidharta murung karena selalu memikirkan anaknya. Padahal sebelumnya ia tak pernah menyerahkan dirinya hingga rela melakukan apa saja demi orang lain, kecuali dengan anaknya ini.

Sidharta menjadi cemas karena dirinya tak ingin anaknya kelak mengalami ketersesatan seperti yang dialaminya.

Dalam perenungannya, dia ditertawakan oleh sungai, betapa kejadian yang sama terus berputar. Sidharta muda dulu yang bersikukuh meninggalkan kedua orang tuanya tanpa pernah kembali, kini ditinggalkan oleh anaknya. Betapa cemasnya orang tua Sidharta waktu itu yang melepas anaknya yang ingin menjadi Shramana, kini Sidharta kembali dia buat cemas oleh anaknya yang tak mau tinggal bersamanya.

Setelah Sidharta mampu melewati masa-masa sulit itu, luka akibat kegelisahan jiwanya yang teramat mendalam berubah menjadi wewangian. Sidharta kini mampu menatap luka itu dengan senyum, tanpa rasa sakit, karena dia sudah meninggalkan segala hasrat duniawi.

Sidharta kini berhenti menentang takdir, berhenti dari penderitaan. Di wajahnya mekar kebahagiaan dari kebijaksanaan yang tidak lagi dikekang oleh keinginan, yang mengenal kesempurnaan, yang selaras dengan sungai apa adanya, dengan arus kehidupan, penuh dengan kebahagiaan berempati, menyerah pada aliran itu, bagian dari kesatuan.

****
Novel “Sidharta” ditulis sekira tahun 1920-an. Kala itu dunia Barat tengah dilanda gelombang kehausan spiritual. Kecongkakan Barat dengan kultur intelektualnya yang melihat suatu permasalahan hanya dari satu sisi, mulai memerlukan upaya pemulihan dari kutub yang berlawanan.

Kisah itu menunjukkan kepada kita betapa jalan pencarian itu tak hanya melelahkan tapi juga membahayakan. Siapapun dapat terperosok dalam kesesatan. Namun bagi sang pencari sejati, keterpurukan tidak membuatnya kehilangan energi untuk terus melakukan pencarian.

Orang awam memandang permasalahan hidup dengan batin yang senantiasa was-was. Hati yang sebenarnya masih cemas tak dibiarkan untuk melakukan pencarian. Keyakinan yang dimiliki adalah sebuah warisan yang turun temurun. Kebenaran yang diimani adalah kebenaran yang dianggap sudah menjadi jamak sehingga ia tak perlu diperdebatkan lagi. Just take it for granted.

Oleh karena itu wajar jika orang lebih memilih menempuh jalan hidup yang lurus dan tak sekali-kali mencoba untuk menyeleweng. Jalan macam ini dipercayainya lebih aman ketimbang jalan pencarian.

Karena jalan pencarian dianggap membahayakan, maka kebebasan berpikir akan dihindari. Buku-buku yang sekiranya dianggap menyimpang ditinggalkan kalau perlu dibakar seperi yang dilakukan oleh rezim Orde Baru dan baru-baru ini dilakukan oleh Nurmahmudi, bupati Depok yang membakar sejumlah buku sejarah yang tak mencantumkan kata PKI.

Buku yang dikuatirkan dapat mengguncangkan keimanan dijauhi. Terlalu mahal untuk mempertaruhkan keimanan yang sudah terlanjur ditetapkan dengan kembali mempertanyakannya. Agar stabilitas keimanan tetap terjaga, maka suara-suara yang dapat meruntuhkan bangunan iman dibuang jauh-jauh.

Jiwa yang haus akan pertanyaan-pertanyaan dibungkam. Alasannya praktis, ada hal yang lebih penting untuk dikerjakan: rutinitas; pekerjaan; kuliah; keluarga dan urusan-urusan lain yang menuntut kita untuk melakukannya dengan segera. Hal inilah yang membuat kita menjadi budak dunia, terjebak pada rutinitas dan tak mau meluangkan waktu untuk mengisi kekosongan bathin kita.

Dalam sinetron kita biasa menonton kehidupan yang menyenangkan. Hidup yang sepertinya mudah tanpa ada masalah yang berarti. Apa yang ditampilkan di sinetron itu jauh dari realita yang terjadi dalam kehidupan yang sebenarnya. Sinetron terlalu menyederhanakan kehidupan yang sebenarnya sangat kompleks.

Dalam kehidupan yang sebenarnya orang akan menemui sarjana yang kesulitan mencari kerja, pasangan suami-istri yang sudah bertahun-tahun hidup berumahtangga tapi di tengah jalan ternyata bercerai, usaha yang sudah mapan dilain waktu gulung tikar, teman yang berubah menjadi lawan, kebenaran yang dikemudian hari ternyata keliru.

Segalanya disediakan di muka bumi ini. Yang baik juga yang buruk, yang benar dan juga yang salah. Diciptakan malaikat, tapi juga dibuat setan. Tak mudah bagi manusia untuk menyibak tabir tuhan dan semesta alam ini, jika dia sendiri belum menemukan rahasia dirinya.

Dalam keterpurukan, kekecewaan yang mendalam, sesuatu yang mulanya tak mungkin bisa saja terjadi. Seorang yang semula tegar karena belum menemui ganjalan dalam jalan hidupnya, tapi sangat mungkin seorang menjadi terpuruk bahkan tercerabut keimanannya karena ditimpa masalah yang mahaberat yang tak diduga-duga sebelumnya.

Anda sekarang bisa merasa aman karena menempuh jalan yang jauh dari konflik, telah menjauhi segala macam bacaan liar. Namun apa yang anda lakukan ini sebenarnya adalah cara untuk menunda kekalahan. Anda seperti tengah mencekokkan opium ke mulut dan setelah pengaruh obat bius itu sirna, anda akan kembali menjadi pesakitan.

Tak ada gunanya menghindar dari masalah untuk mencari jalan yang lebih aman sedang di lain waktu momok itu akan kembali menemui. Sampai kapan anda akan terus menelan pil penghilang kesadaran itu?

Hidup adalah pertaruhan, siapa yang mau bersusah, maka dia yang akan mendapat hasilnya. No pain, no gain. Who dares nothing, need hope for nothing. . Siapa yang tak mau mencari, maka dia tak akan menemukan.

Hidup yang tak dipertaruhkan tak akan pernah dimenangkan, tulis penyair romantik asal Jerman Friedrich Schiller dalam salah satu sajaknya. Teks aslinya dalam bahasa Jerman yang berbunyi: und setzt ihr nicht das Leben ein, nie wird euch das Leben gewonnen sein—pernah dikutip oleh Sjahrir dalam dua pucuk suratnya yang ditulis dari penjara Cipinang dan dari tempat pembuangan di Boven Digoel.

Kini saya mempercayai bahwa setiap pencarian adalah jalan menuju penemuan. Kepada diri saya sendiri saya meyakinkan bahwa setiap masalah yang dijumpai dalam hidup ini akan menempa kadar kedewasaan seseorang. Selamat mencari, semoga kita kelak akan diberikan kemenangan.

MASALAH:
(1) bagi seorang penulis ataupun seorang pembaca, buku apa sih yang paling baik?
(2) apa pentingnya pengkritik buat penulis?

BAGIAN I
Inilah jawaban saya: buku yang baik adalah buku yang mampu mengungkap, menggelitik alam bawah sadarnya, dan mendorongnya untuk bertindak atau merenungkan hidup.

mungkin bagi sebagian orang, buku itu tampak ecek2, kampungan, katrok, tapi bagaimana kalau buku itu bisa mengubah hidupnya, merevolusi cara pandangnya.

Bagi kalian, buku2 pemenang nobel itu atau pemenang2 hadiah sastra itu luar biasa. kalian memujinya setinggi langit. tapi kalau buku itu tak memberi rasa sentuhan kepada saya, apalah guna semua pujian itu. semua akan lewat tak teringat tak berjejak.

kalau kalian berkata bahwa buku la tahzan itu luar biasa, bagaimana kalau saya lebih tersentuh dan merinding ketika membaca berulang2 buku HAJI ali syari’ati. lalu mana yang lebih baik: buku la tahzen atau buku haji.

maka bagi saya membaca adalah sebuah pengalaman personal.

tak bisa kalian membanding-bandingkan derajat buku jika sebuah buku punya pembacanya masing-masing. apa kalian kira seorang penulis tidak memikirkan buat siapa buku itu. bahkan penulis paling pemula pun di bawah sadarnya dia sudah terpacak bayangan untuk siapa. dan paling minim adalah pribadi-pribadi seperti dirinya.

dan apa sih salahnya buku yang terjual banyak?

saya adalah salah satu pendorong bagi adik2 saya untuk menulis terus, jangan takut nggak dibaca, tapi kalau bisa pikirkan siapa dan seperti apa pembacamu. kalau pembaca yang kamu pikirkan adalah sangat terbatas, ya itulah pencapaian karyamu. lakukan itu, kejar itu. kalau kalian menulis dengan menembus pembaca dengan cara terlebih dahulu menembus benteng selera para juri lomba, tempuhlah jalan itu. ambil hadiahnya, dan semoga dari sana pembaca yang banyak bisa kalian raih.

dengan kejelian membaca pasar buku atau pasar pembaca, tidak lantas bahwa prilaku sang penulis itu semata mencari keuntungan finansial. itu hanya timbal dari kecerdikan menentukan target pembaca dan tentu saja kecerdikan membaca ruang gagasan yang lowong.

kembali ke selera bacaan.

mungkin kalian akan bilang bahwa selera saya katrok, ndeso, dan menjijikkan. dan akan saya bilang, biarin. toh saya membaca buku yang kemudian saya sukai itu karena memiliki implikasi etis dan intelektual dalam diri saya.

karena itu jika kalian bertanya kepada orang, maka kalian akan terkaget2, betapa nyaris semua orang berbeda buku favoritnya.

jika kalian bilang: hei gus muh, buku apa yang kausukai sejatinya. maka jawaban saya ada tiga. (1) buku haji yang membuat saya tergetar dan mengarahkan pelan2 pandangan saya bagaimana gerak fisik setiap ibadah adalah langkah2 revolusi. dari buku haji, maka saya tergerak ke kiri, saya terdorong untuk menyelenggarakan pesantren sosialisme religius, dan tak gegabah menghinakan kaum komunis. (2) buku pram yang membuat saya terguncang dan mau mencintai dan sekaligus belajar membuat novel di mana sebelumnya karya sastra adalah buku haram dan tak senonoh untuk dipegang. mungkin kalian mengatakan buku budi dharma itu luar biasa. saya menghargai itu. tapi jangan kalian paksa saya turut mencintainya. sebab sudah dua buku pak budi saya tamatkan, saya tak terlalu banyak mendapatkan greget dan karena itu bisa mengubah jalan hidup saya. (3) buku ayat-ayat setan salman rushdie yang mungkin bagi kalian itu buku tak bagus, jelek di semua lini, tapi saya menyukainya. mungkin kalian bilang buku2 kayak begitu gampang dibuat… mungkin, tapi saya percaya satu hal, buku sesederhana apa pun itu membutuhkan cucuran keringat yang tak sedikit untuk membuatnya, membutuhkan berlapis kesabaran untuk tak tergoda meninggalkan embrio yang sedang tumbuh di kepala, membutuhkan ketegaran untuk bergabung barang sebentar dengan telaga sepi, dan tentu saja butuh disiplin yang mengekang diri untuk menyelesaikannya hingga akhir.

karena itu saya menghargai sepenuh2nya buku, suka atau tidak. saya menyukai penulis (buku atau blog) yang menulis dengan kesabaran yang intens, ketahanan berada di tepi sepi, dan kesungguhan menerapkan disiplin. kalau pun karya yang dihasilkannya bermutu rendah, itu tak jadi soal. kalian boleh mengutuknya, kalian boleh memakinya, kalian boleh mendinakannya, tapi jangan paksa saya melakukan hal serupa.

dan terakhir, sebuah buku akan mencari pembacanya yang sehati lewat prosedur pasar yang berkelok-kelok, penuh intrik, saling merintang dan membalok, tapi bergairah.

BAGIAN II
Saya menghargai kritik. saya sepakat sepenuhnya bahwa dalam masyarakat teks ada selapis orang yang berprofesi pengkritik. dan itu baik buat penulis dan baik pula buat pembaca.

pengkritik apa sih yang berguna bagi penulis. semua berguna, namun yang saya maksudkan adalah tingkat gradasinya.

kalau ada yang hanya mencela dan memaki dan bahkan ia melakukan itu dengan bahkan tak pernah membaca langsung buku itu, sorry, lupakan saja. mereka baru bangun tidur. mereka terlahir bukan sebagai pembaca yang utuh, mereka pembaca setengah. dan orang yang setengah2 ini yang paling menakutkan. dan sekaligus membuat perkara kebingungan dua penjaga gerbang akhirat: neraka dan surga. ini org mau dimasukkan ke mana ya… dia jahat tapi baik juga; dia baik tapi jahat juga…

pembaca yang utuh adalah pembaca yang memang membaca buku sampai selesai…(dan tak merepotkan para malaikat) maksudnya, tentu tak mesti membaca buku itu dari lembar pertama sampai yang terakhir, karena ada orang yang maqom membacanya sudah tinggi… hanya melihat beberapa halaman saja sudah memberikan komentar dan komentar itu tepat, cerdas, dan kritik yang menghunjam tajam.

pengkritik apa yang dibutuhkan penulis? tentu saja kritik yang sungguh2. kritik yang mengelupas setiap kulit makna dalam buku itu. dan saya sangat menghargai kritik yang demikian itu.

lantas bagaimana sikap penulis menanggapi kritik2 itu. tanggapan terbaik adalah kembali ke kamar, atur daftar bab, meriset bahan, dan kembali menulis… terlalu lama ikut serta dalam kerumunan debat, saya khawatir dia akan salin profesi mengerikan: turut menjadi pemaki, tukang sinis, dan lupa mencipta.

jika kalian coba2 mengkasifikasi seorang penulis dengan penulis berselera rendah rendah dan penulis berselera tinggi (karena itu berpengaruh dengan klasifikasi: buku rendah dan buku tinggi), kalian belum keluar dari perdebatan zaman dahulu kala. apakah itu salah? tidak tentu saja, walau belum tentu benar. saya punya klasifikasi sendiri atas jenis pembaca, atas jenis penulis, dan pada akhirnya atas sebuah buku. dan simpulan saya sederhana:

(1) PEMBACA YANG MALAS DAN PEMBACA YANG RAJIN. pembaca yang malas akan menghasilkan dua hal: ekstrim memaki atau royal memuji. pembaca yang rajin tampak akan bijak; bukan karena keengganan atas sosok penulis (karena teman karena senior karena dosen sendiri), tapi karena dia tahu mana bumbu yang kurang pas dan mana bumbu yang lebih serta mana bumbu yang lupa ditaruh.

(2) PENULIS YANG MALAS DAN PENULIS YANG RAJIN. penulis yang malas adalah penulis yang tidak mau meluangkan waktu untuk melakukan riset atas tulisannya dan ketekunan membaca. bahkan karangan paling imajinatif dan surealisme paling liar sekalipun butuh riset. penulis yang rajin adalah penulis yang sebaliknya dari penulis yang malas…

Dan paling pungkas, hanya dua jenis blogger: blogger yang rajin mengupload dan blogger angin-anginan.

[tulisan ini adalah tanggapan Muhidin M Dahlan atas komentar saya di blognya pada tulisan yang berjudul “Tugas Penulis adalah Menulis“.]

Apa kriteria buku yang bagus? Seorang penulis dalam sebuah milis komunitas penulis mengatakan, buku yang bagus adalah buku yang dicetak ulang beberapa kali, buku best seller. Asumsinya, buku yang banyak terjual berarti banyak dibeli. Karena banyak dibeli, ia banyak dibaca. Karena banyak dibaca berarti ia banyak diminati pembaca. Nah, karena banyak dibaca maka sebuah buku layak disebut sebagai buku yang bagus.

Memang asumsi itu ada benarnya. Tapi tidak sepenuhnya bisa dibenarkan.

Begini. Jika kriteria buku yang bagus itu diukur dari seberapa besar pembacanya, seberapa banyak buku itu terjual, apakah lantas buku-buku yang tak banyak terjual, bukan buku best seller itu buruk.

Dalam dunia kesusasteraan Indonesia ada sederet nama-nama hebat penulis yang karyanya diulas di berbagai media, diperbincangkan dalam berbagai forum. Namun buku mereka belum banyak mengalami cetak ulang. Nukila Amal, Linda Christanty, atau yang sudah senior, Budi Dharma, Danarto, Kuntowijoyo, adalah beberapa penulis yang dimata kritikus karyanya bagus, namun bukunya tak mendapat sambutan luas dari pembaca. Dalam beberapa hal penilaian kritikus bisa mempengaruhi pembaca, namun tidak selamanya selera kritikus dan pembaca sejalan.

Berbeda dengan buku fiksi pop teenlit-chicklit macam “Dealova”, “Cintapucino” , “Ungu Violet” atau fiksi islami yang sangat fenomenal “Ayat-ayat Cinta” yang kabarnya sudah terjual lebih 300 ribu buku, atau novel sensasional macam “Selingkuh Itu Indah”, “Garis Tepi Seorang Lesbian”, “Jangan Main-main dengan Kelaminmu”, dan tentu saja yang tak bisa diremehkan adalah “Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur!” karya Muhidin M Dahlan yang pada per maret 2007 sudah naik cetak 12 kali!

Pertanyaannya, apakah karya Nukila Amal, Linda Christanty, Danarto, Budi Dharma, Kuntowijoyo, lebih buruk dari karya mereka yang bukunya sudah mampu menembus angka cetak ulang yang fantastis itu?

Menurut saya, tentu saja tidak! “Cala Ibi” karya Nukila Amal, “Kuda Terbang Mario Pinto” karya Linda Christanty, yang keduanya banyak dipuji oleh kritikus karena keindahan diksinya, atau “Adam Makrifat”, “Godlob” karya Danarto, “Mantra Penjinak Ular” karya Kuntowijoyo yang mengusung sastra realisme magis dan sastra profetik, dan penulis-penulis lain yang saya kagumi macam Gus tf Sakai sampai yang lebih senior macam Goenawan Mohammad belum mampu menembus angka cetak ulang yang cuku fantastis, bahkan jika dibanding penulis-penulis teenlit yang masih ABG.

Bagi saya ada beberapa faktor sebuah buku itu bisa laku keras. Untuk sejenis karya teenlit-chicklit, seperti pada karya pop pada umumnya, memang memiliki pembaca yang lebih banyak. Hal ini bisa saja karena tema yang ditawarkan ringan. Dan saya menduga, kebanyakan pembaca sastra di Indonesia adalah mereka yang membaca karya untuk hiburan, bukan untuk mengkaji, mengapresiasi. Kalaupun ada yang mengkaji, prosentasenya jauh lebih kecil jika dibanding mereka yang membaca untuk hiburan, atau yang lebih bijak, untuk mencari pelajaran hidup.

Selain tema populer, yang bisa memicu daya jual buku adalah tema polemik. Karya Djenar Mahesa Ayu “Jangan Main-main dengan kelaminmu”, “Garis Tepi seorang Lesbian” karya Herlinatiens dan “Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Palacur” karya Muhidin M Dahlan, contohnya. Dua pengarang yang disebut dibelakang adalah mantan kru LPM Ekspresi, pers mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Tema-tema polemik ini uniknya, makin dia dikecam, makin dia terjual. Dari situ orang menjadi penasaran, akhirnya membeli. Ini seperti yang dialami oleh Gus Muh, yang sempat beberapa kali dalam forum diskusi karyanya dikatakan kafir dan diancam akan dibunuh!

Bagi saya, ukuran sebuah buku yang baik bukan cuma dari paling banyak pembacanya. Ukurannya bukan kuantitas, tapi kualitas, kualitas apresiasi dari pembacanya. Meski karya itu tak seheboh “Jakarta Undercover”- nya Moammar Emka, tapi “Cala Ibi”-nya Nukila Amal akan mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari pembaca yang masih terbatas.

Barangkali pembaca majalah sastra Horison yang dulu mengkaji tema-tema sastra “adilihung” akan berpindah ke majalah lain setelah majalah itu kini menurunkan standarnya menjadi majalah anak-anak SMU. Saya lebih respek pada jurnal Kalam (tapi terbitnya walah nggak jelas, kayak Hayamwuruk saja, hehe) yang masih bersetia dengan tema-tema serius, meski kini tidak cuma mengusung tema-tema sastra, tapi kebudayaan secara luas. Saya yakin, meski pembaca Kalam tak sebanyak pembaca Horison kini, tapi dari segi kualitas apresiasi pembacanya akan jauh berbeda.

Satu lagi, mayoritas masyarakat pembaca sastra Indonesia dan bidang-bidang disiplin lain memang lebih suka dengan karya-karya yang ringan. Makanya tontonan “Empat Mata” dengan Thukul katrok mendapatkan rating yang tinggi. Padahal Thukul ya nggak se-smart Om Farhan. Dari segi muatan ya, nggak serius. Orang disitu yang menjadi pusat perhatian Thukul. Narasumber belum tuntas menjawab, thukul sudah menyela, seolah-olah dia tak butuh jawaban.

Dalam dunia kesusasteraan, pembaca kita pun tak jauh beda. Mayoritas pembaca kita menyukai hal-hal yang bisa menimbulkan keharuan. “Ayat-ayat Cinta” (AAC) karya Habiburahman, “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata, laku keras. Cewek-cewek sangat menggandrungi tokoh Fahri yang santun, alim dalam AAC. Atau cerita-cerita Andrea yang mengisahkan betapa mengharu-birukannya pendidikan di sebuah kampung di tanah Sumatra. Faktor keharuan yang bisa menimbulkan rasa iba ini, juga yang memicu terpilihnya Feri dalam kontes Akademi Fantasi Indosiar (AFI) atau Ikhsan dalam Indonesian Idol.

Bagaimana sebuah buku bisa menjadi best seller, diperlukan strategi untuk bisa menembus angka penjualan yang fantastastis. Yakni strategi menjual diri! Kenapa dikatakan menjual diri, ya kita menjual buku-buku yang memang disukai penerbit dan yakin akan banyak dibeli pembaca. Membuat buku best seller tak cuma membutuhkan kelihaian penulis meramu kata, tapi juga butuh strategi. Penulis tak hanya cerdas soal menulis, tapi paham juga soal pasar, marketing. Dan langkah menjual diri ini sebenarnya juga tak sepenuhnya jahat, ketika juga diikuti upaya menciptakan sebuah karya yang bermutu, berbobot, tidak semata-mata untuk mengeruk pendapatan royalti.

Namun, sepertinya selera pembaca akan sebuah karya akan terus berubah. Fiksi islami yang pada periode awal 2000 laris manis, bahkan penerbit rame-rame bikin devisi khusus fiksi islami, semenjak tahun 2005 sepertinya mengalami matisuri. Seperti yang diakui seorang penulis fiksi islami dalam sebuah diskusi di Semarang beberapa hari lalu, karya-karya fiksi islami belakangan justru banyak dikembalikan oleh pihak penerbit. Kondisi ini sangat berkebalikan ketika fiksi islami tengah booming, beberapa penerbit berlomba-lomba menerbitkan fiksi islami, diantaranya bahkan membuat departemen khusus fiksi islami.

Menurunnya selera pembaca juga terjadi pada fiksi yang mengangkat tema seks. Judul macam “Petualangan Celana Dalam” karya Nugroho Suksmanto (pengusaha kontraktor Mega Kuningan yang mendadak menulis karya sastra) sudah tak seheboh ketika awal-awal tema seks sedang ramai.

Pada titik itu akan terbukti, karya-karya siapa yang masih akan terus dibaca, diapresiasi, dibeli meski cuma satu-dua, yakni karya-karya yang memang secara kualitas bagus, bukan tren sesaat.

Lantas, masih relevankah membicarakan sebuah kualitas karya dari kuantitas penjualan buku?

[tulisan ini saya posting untuk bahan diskusi di milis jurnalisme sastrawi , milis jurnalisme, penulisan, media. Yang ingin bergabung dengan milis jurnalisme sastrawi, silakan klik di sini]

dari kamar gelap

memungut yang terjatuh. menyusun kembali yang teralpa. mengabadikannya ke dalam tulisan. seperti ungkapan "Scripta manent verba volant" uang--tertulis akan tetap mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin. selamat menikmati!

yang terkubur