You are currently browsing the category archive for the ‘My Review’ category.

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

…………………………………………..

Dikutip dari puisi “Aku” karya Chairil Anwar .

Barangkali sajak Chairil Anwar itulah yang cukup bisa menjelaskan sikap Erskine Cadwell ketika memutuskan meninggalkan karir jurnalistiknya di The Atlanta Journal demi menjadi penulis fiksi profesional. Seperti yang didapatkan setelah membaca sajak “Si Binatang Jalang” itu, kesan yang muncul dari sikap Erskine itu, dia adalah pribadi yang angkuh dan tak kenal kompromi. Baik Chairil maupun Erskine sepertinya tak mau berdamai dengan keadaan, sebaliknya mereka malah hendak menaklukkannya. Jelas saja keputusan Erskine itu membuat cemas beberapa rekan kerjanya. Read the rest of this entry »

“Jika kamu menemukan kebahagiaan di hutan, kembalilah dan ajarkan padaku tentang kebahagian itu. Jika hal itu mengecewakanmu, kembalilah dan kita akan membuat korban persembahan pada para dewa bersama-sama. Sekarang pergilah dan ciumlah ibumu, dan beritahukan kepadanya ke mana kau akan pergi,” pesan sang Brahmana kepada Sidharta yang ingin ke hutan untuk bertapa bersama para Shramana.

Sidharta adalah tokoh dalam novel dengan judul yang sama karya Hermann Hesse, penerima Nobel Sastra 1946. Sidharta muda telah membuat ayahnya yang seorang Brahmana cemas karena anak semata wayangnya itu ingin pergi ke hutan untuk bertapa dan bergabung bersama para Shramana.

Bisa dimengerti jika orang tua cemas ketika anaknya ingin menempuh jalan pencarian. Bukan semata karena harus berpisah dengan si anak, tapi jalan pencarian yang penuh resiko membuat setiap orang tua khawatir akan keselamatan anaknya.

Sidharta adalah potret seorang pemuda yang haus akan pengetahuan. Dia akan terus mencari tanpa pernah menemukan ketetapan. Ia menolak untuk mengimani setiap ajaran dari para guru yang ditemuinya. Ditinggalkannya Shramana kemudian bertemu dengan Sang Budha Agung yang namanya sudah tersohor dan ratusan hingga ribuan orang berdatangan untuk mendengarkan ceramahnya.

Namun setelah bertemu dengan sang budha, Sidharta tetap saja tak dapat menetapkan hatinya untuk menjadi pengikut sang Gotama. Menurutnya kebijakan hidup tak bisa diajarkan, tapi dia harus dicari dan dialami sendiri ole Sang Pencari.

Jika Gotama menemukan kebijakan hidupnya dari hasil pencariannya sendiri, maka siapapun yang ingin menjadi sepertinya harus menempuh jalan pencarian serupa. Pengalaman spiritual harus dialami dan ia tidak bisa diajarkan. Itulah sebabnya Sidharta meninggalkan ajaran Sang Budha Agung Gotama. Sidharta tak yakin kendati dirinya menjadi pengikut Gotama dan mengamalkan ajaran-ajarannya, ia dapat menundukkan egonya.

Yang mengejutkan, setelah menolak menjadi pengikut Gotama, Sidharta keluar dari hutan dan berguru pada Kemala. Siapakah gerangan Kemala itu? Sang Guru Sidharta ini adalah seorang pelacur yang pertama kali dijumpainya ketika dirinya tiba di perkampungan. Kedengarannya memang sangat naïf, bagaimana mungkin seorang Shramana yang telah melalui jalan spiritualnya dengan bertapa selama bertahun-tahun, namun kini hendak berguru dan mengabdi menjadi murid seorang pelacur?

Sidharta ingin belajar bagaimana menjalani hidup seperti orang awam. Kehidupan macam ini sudah lama ia tinggalkan semenjak dirinya menjadi Shramana.

Dia belajar banyak dari Kemala, bagaimana menghasilkan uang, bagaimana menjalankan urusan dunia. Dia berhasil mengelola sebuah usaha dagang milik salah seorang saudagar kaya, namun dia tak pernah berhasrat untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Dia ingin bisa berpakaian bagus dan punya cukup uang untuk disetorkan kepada Kemala. Dua hal ini sudah lebih dari cukup bagi Sidharta.

Kendati Sidharta melakukan pekerjaan duniawi itu demi Kemala, namun dia tak pernah berhasrat untuk memiliki Kemala sesungguhnya. Dia tak ingin mengikatkan hatinya kepada siapapun, kecuali menuruti kehendak pikirannya sendiri. Walau dirinya menjadi murid pelacur, namun jiwanya masih tetap menjadi milik seorang Shramana.

Lambat laun hasrat untuk memiliki harta dan segala pernik keduniawian mulai menggerogoti jiwa Shramananya. Ketika ia menyadari hal ini, betapa dirinya sangat menyesali ketersesatannya. Segera saja ia meninggalkan perkampungan itu, tanpa bekal apapun kecuali sepotong pakaian dan sepatu mewah yang dikenakannya.

Ia menemui seorang juru sampan yang menyeberangkannya beberapa tahun lalu. Sang juru sampan tak mengenalinya lagi karena Sidharta muda yang dulu ditemuinya mengenakan pakian Shramana dengan rambut yang memanjang, kini datang dengan pakian yang mewah dan rambutnya yang dicukur rapi.

Dengan ketahanan mendengarkan yang luar biasa, Vasudewa si juru sampan tua itu mendengarkan keluh kesah Sidharta hingga menjadi seperi sekarang ini.
Sidharta mengajukan permohonan untuk menjadi murid si juru sampan. Darinya Sidharta belajar bagaimana sungai bisa mengajarkan manusia akan ketenangan hidup. Bagaimana sungai akan menertawakan manusia yang tampak ramai, tampak alim, namun kosong dalam pemenuhan spiritualnya.

Bertahun-tahun Sidharta belajar dari sungai. Di tempat itu ia menemukan kehidupannya yang baru bersama Vasudewa. Mereka tak banyak bercakap, namun keduanya saling memahami dalam kediaman.

Ketenangan Sidharta kembali terusik ketika anak hasil hubungannya dengan Kemala ikut tinggal bersamanya. Anak itu terpisah dari ibunya yang pinsan setelah dipatuk ular. Kesabaran Sidharta untuk selalu mengalah kepada anaknya, meski si anak kerap berlaku kasar kepadanya, membuat batinnya menjadi tak tenang.

Vasudewa menyarankan agar Sidharta mengembalikan si anak ke rumah ibunya. Anak itu tak terbiasa hidup dalam kesederhanaan seperti yang dijalani oleh kedua orang tua yang tinggal di gubug itu. Dia sudah terbiasa hidup dilayani oleh para pembantu. Memaksakan si anak tinggal di gubug itu berarti menyiksa si anak, dan juga Sidharta.

Suatu hari si anak kabur dengan menggunakan sampan Vasudewa dan membawa serta kantong berisi uang hasil menyeberangkan orang-orang yang melewati sungai. Sidharta segera menyusul anaknya. Setelah memastikan si anak telah sampai di rumah ibunya dengan selamat, Sidharta kembali ke gubug juru sampan. Berhari-hari Sidharta murung karena selalu memikirkan anaknya. Padahal sebelumnya ia tak pernah menyerahkan dirinya hingga rela melakukan apa saja demi orang lain, kecuali dengan anaknya ini.

Sidharta menjadi cemas karena dirinya tak ingin anaknya kelak mengalami ketersesatan seperti yang dialaminya.

Dalam perenungannya, dia ditertawakan oleh sungai, betapa kejadian yang sama terus berputar. Sidharta muda dulu yang bersikukuh meninggalkan kedua orang tuanya tanpa pernah kembali, kini ditinggalkan oleh anaknya. Betapa cemasnya orang tua Sidharta waktu itu yang melepas anaknya yang ingin menjadi Shramana, kini Sidharta kembali dia buat cemas oleh anaknya yang tak mau tinggal bersamanya.

Setelah Sidharta mampu melewati masa-masa sulit itu, luka akibat kegelisahan jiwanya yang teramat mendalam berubah menjadi wewangian. Sidharta kini mampu menatap luka itu dengan senyum, tanpa rasa sakit, karena dia sudah meninggalkan segala hasrat duniawi.

Sidharta kini berhenti menentang takdir, berhenti dari penderitaan. Di wajahnya mekar kebahagiaan dari kebijaksanaan yang tidak lagi dikekang oleh keinginan, yang mengenal kesempurnaan, yang selaras dengan sungai apa adanya, dengan arus kehidupan, penuh dengan kebahagiaan berempati, menyerah pada aliran itu, bagian dari kesatuan.

****
Novel “Sidharta” ditulis sekira tahun 1920-an. Kala itu dunia Barat tengah dilanda gelombang kehausan spiritual. Kecongkakan Barat dengan kultur intelektualnya yang melihat suatu permasalahan hanya dari satu sisi, mulai memerlukan upaya pemulihan dari kutub yang berlawanan.

Kisah itu menunjukkan kepada kita betapa jalan pencarian itu tak hanya melelahkan tapi juga membahayakan. Siapapun dapat terperosok dalam kesesatan. Namun bagi sang pencari sejati, keterpurukan tidak membuatnya kehilangan energi untuk terus melakukan pencarian.

Orang awam memandang permasalahan hidup dengan batin yang senantiasa was-was. Hati yang sebenarnya masih cemas tak dibiarkan untuk melakukan pencarian. Keyakinan yang dimiliki adalah sebuah warisan yang turun temurun. Kebenaran yang diimani adalah kebenaran yang dianggap sudah menjadi jamak sehingga ia tak perlu diperdebatkan lagi. Just take it for granted.

Oleh karena itu wajar jika orang lebih memilih menempuh jalan hidup yang lurus dan tak sekali-kali mencoba untuk menyeleweng. Jalan macam ini dipercayainya lebih aman ketimbang jalan pencarian.

Karena jalan pencarian dianggap membahayakan, maka kebebasan berpikir akan dihindari. Buku-buku yang sekiranya dianggap menyimpang ditinggalkan kalau perlu dibakar seperi yang dilakukan oleh rezim Orde Baru dan baru-baru ini dilakukan oleh Nurmahmudi, bupati Depok yang membakar sejumlah buku sejarah yang tak mencantumkan kata PKI.

Buku yang dikuatirkan dapat mengguncangkan keimanan dijauhi. Terlalu mahal untuk mempertaruhkan keimanan yang sudah terlanjur ditetapkan dengan kembali mempertanyakannya. Agar stabilitas keimanan tetap terjaga, maka suara-suara yang dapat meruntuhkan bangunan iman dibuang jauh-jauh.

Jiwa yang haus akan pertanyaan-pertanyaan dibungkam. Alasannya praktis, ada hal yang lebih penting untuk dikerjakan: rutinitas; pekerjaan; kuliah; keluarga dan urusan-urusan lain yang menuntut kita untuk melakukannya dengan segera. Hal inilah yang membuat kita menjadi budak dunia, terjebak pada rutinitas dan tak mau meluangkan waktu untuk mengisi kekosongan bathin kita.

Dalam sinetron kita biasa menonton kehidupan yang menyenangkan. Hidup yang sepertinya mudah tanpa ada masalah yang berarti. Apa yang ditampilkan di sinetron itu jauh dari realita yang terjadi dalam kehidupan yang sebenarnya. Sinetron terlalu menyederhanakan kehidupan yang sebenarnya sangat kompleks.

Dalam kehidupan yang sebenarnya orang akan menemui sarjana yang kesulitan mencari kerja, pasangan suami-istri yang sudah bertahun-tahun hidup berumahtangga tapi di tengah jalan ternyata bercerai, usaha yang sudah mapan dilain waktu gulung tikar, teman yang berubah menjadi lawan, kebenaran yang dikemudian hari ternyata keliru.

Segalanya disediakan di muka bumi ini. Yang baik juga yang buruk, yang benar dan juga yang salah. Diciptakan malaikat, tapi juga dibuat setan. Tak mudah bagi manusia untuk menyibak tabir tuhan dan semesta alam ini, jika dia sendiri belum menemukan rahasia dirinya.

Dalam keterpurukan, kekecewaan yang mendalam, sesuatu yang mulanya tak mungkin bisa saja terjadi. Seorang yang semula tegar karena belum menemui ganjalan dalam jalan hidupnya, tapi sangat mungkin seorang menjadi terpuruk bahkan tercerabut keimanannya karena ditimpa masalah yang mahaberat yang tak diduga-duga sebelumnya.

Anda sekarang bisa merasa aman karena menempuh jalan yang jauh dari konflik, telah menjauhi segala macam bacaan liar. Namun apa yang anda lakukan ini sebenarnya adalah cara untuk menunda kekalahan. Anda seperti tengah mencekokkan opium ke mulut dan setelah pengaruh obat bius itu sirna, anda akan kembali menjadi pesakitan.

Tak ada gunanya menghindar dari masalah untuk mencari jalan yang lebih aman sedang di lain waktu momok itu akan kembali menemui. Sampai kapan anda akan terus menelan pil penghilang kesadaran itu?

Hidup adalah pertaruhan, siapa yang mau bersusah, maka dia yang akan mendapat hasilnya. No pain, no gain. Who dares nothing, need hope for nothing. . Siapa yang tak mau mencari, maka dia tak akan menemukan.

Hidup yang tak dipertaruhkan tak akan pernah dimenangkan, tulis penyair romantik asal Jerman Friedrich Schiller dalam salah satu sajaknya. Teks aslinya dalam bahasa Jerman yang berbunyi: und setzt ihr nicht das Leben ein, nie wird euch das Leben gewonnen sein—pernah dikutip oleh Sjahrir dalam dua pucuk suratnya yang ditulis dari penjara Cipinang dan dari tempat pembuangan di Boven Digoel.

Kini saya mempercayai bahwa setiap pencarian adalah jalan menuju penemuan. Kepada diri saya sendiri saya meyakinkan bahwa setiap masalah yang dijumpai dalam hidup ini akan menempa kadar kedewasaan seseorang. Selamat mencari, semoga kita kelak akan diberikan kemenangan.

Judul : Nafsu Terakhir
Penulis : Elizabeth D. Inandiak
Penerbit: Galang Press
Cetakan : Kedua, 2007
Tebal : 190 halaman

Ini adalah jilid ke sembilan dari kedua belas jilid Serat Centini yang sangat mashur itu. Hampir seluruh isinya bercerita tentang syahwat. Tapi ia terselamatkan oleh keluhuran tembang yang sarat muatan ajaran tauhid dan tasawuf. Ia mengajarkan nilai-nilai luhur kearifan jawa yang bijaksana. Meski kerap kali tak teralakkan dibawa ke kubangan nafsu syahwati yang liar, mewarnai pengembaraan Amongraga yang suci untuk mencapai kehadiranNya.

Nafsu Terakhir diadaptasi oleh Elizabeth D. Inandiak. Centini disusun atas perintah putra mahkota Kesultanan Surakarta Adiningrat untuk menyusun kembali sebuah cerita kuno dalam bentuk tembang yang menyarikan segala ngelmu Jawa. Tembang ini disusun dalam bahasa Jawa, dengan syair yang luar biasa indah. Syair yang mahadahsyat itu diberinama Suluk Tembangraras, tapi orang lebih mengenalnya dengan nama Serat Centini. Untuk melaksanakan misi ini, diutuslah tiga pujangga keraton: Sastranegara (Yasadipura II atau Ranggawarsita I), Ranggasutrasna dan Sastradipura.

Ranggasutrasna diberi tugas menjelajahi Jawa bagian Timur untuk mengecek keadaan dan menghimpun pengetahuan. Sastradipura mendapat tugas menunaikan ibadah haji dan menyempurnakan pengetahuannya tentang agama islam. Sedang Sastranegara mendapat tugas menjelajahi Jawa Barat sekaligus menghimpun pengetahuan lahir bathin.

Ranggasutrasna yang pulang terlebih dulu, segara memulai pekerjaannya. Hasil karyanya menjadi 4 jilid, berisi 321 buah lagu, menceritakan sejarah Giri hingga keruntuhannya dan tiga orang putra Giri dalam satu jilid. Namun karya Ranggasutrasna ini belum memuaskan keinginan Sang Pangeran karena bagian seksualnya masih kurang menonjol. Begitupula setalah kedua rekannya, Sastradipura dan Satranegara merampungkan bagiannya. Sang Pangeran masih belum juga puas. Bagian senggamanya masih kurang greget. Maka dikerjakanlah sendiri oleh Sang Pangeran dari jilid 5-10, kemudian penulisannya diserahkan kepada ketiga pujangga keraton itu (Wayan Susetya, 2007:109-110).

Dalam buku ini dikisahkan Tembangraras meratapi kepergian suaminya, Amongraga. Berhari-hari ia mengurung diri di kamar. Ia tak mau berkomunikasi dengan siapapun, termasuk abdi setianya, Centini, yang memahami setiap bahasa isyarat Tuan Putrinya. Ayahanda dan ibunda Tembangraras cemas tak karuan. Dibujuklah sang putri agar melupakan kesedihan. Tapi tetap saja tak meruntuhkan nestapanya. Hingga akhirnya ayahanda mengutus adiknya Kalawirya untuk mencari sang menantu. Bersama kedua adik Tembangraras, Jayengwesti dan Jayengraga, Kalawirya dan Nuripin pagi buta berangkat mengembara menyusuri hutan meninggalkan padepokan Wannamarta.

Ditengah pengembaraannya, berulangkali mereka dihadapkan pada godaan-godaan yang menjerumuskan mereka menuntaskan nafsu syahwatnya. Adegan seks dilukiskan begitu vulgar. Mulai pertemuanya dengan seorang janda kaya yang menjamu mereka hingga mabuk kemudian mencicipi satu-persatu zakar Nuripin, Kalawirya, dan kedua keponakannya. Di perjalanan lain kadang mereka menuntaskan syahwatnya dengan memasukkan alat kelaminnya ke dubur teman prianya. Dipersinggahan lain, mereka tiba di kediaman seorang peladang bernama Ki Nurbayin. Katiga putrinya yang buruk rupa diam-diam sudah lama memendam keinginan untuk mencoba zakar seorang pria. Beberapa kali mereka melihat Ayah dan ibu tirinya berhubungan intim dari balik tirai kamarnya. Maka begitu dirumahnya kedatangan tamu para pria, mereka bergerombol mengikuti ke tempat tidur para tamunya.

“Apa menurut kalian Jayengraga mau ditunggangi jika kita dekati,” tanya Banem, sisulung kepada kedua adiknya, Banikem dan Baniyah.

Sesuai kesepakatan, sisulung diberi kehormatan mencoba zakar Jayengraga untuk yang pertama. Dalam kegelapan Banem memeluk Jayengraga. Adik Tembangraras itu pura-pura terkejut. Padahal ia sudah mendengar percakapan ketiga bersaudara itu. Dalam hati ia sebenarnya tak ingin menyerahkan alat kelaminnya menjadi percobaan para perempuan buruk rupa itu. Tapi karena tak ingin melukai hatinya, Jayengraga membiarkan saja ketika Banem naik di atas pahanya. Jayengraga dibuat geli karena Banem tak tahu bagaimana memulai permainan. Maka dibimbinglah ia oleh Jayengraga untuk memasukkan zakar yang sudah mulai mengeras itu ke vaginanya yang masih perawan. Usai Banem, Banikem dan Baniyah menggilir Jayengraga bergantian, hingga akhirnya subuh tiba dan Jayengraga segera mengambil air wudhu dan mengerjakan sholat subuh.

Adegan seks itu kendati dilukisakan begitu vulgar, tapi juga jenaka. Karya sastra ini memang hendak menampilkan seks secara polos, jujur, sebagai nafsu lahiriah yang lumrah terjadi pada manusia. Para pria itu beberapa kali tak mampu mengelak dari nafsu syahwati, tapi usai itu mereka tetap tak lupa menunaikan kewajiban sholat lima waktunya!

****

“Sayangku, jika kamu berkenan, mari kita kembali ke dunia makhluk dan rajanya,” tutur Amongraga kepada Tembangraras, istrinya.

Amongraga baru saja tersadar dari pengembaraannya yang panjang. Dia telah menelantarkan Tembangraras, si cantik jelita putri kiai pesantren Ki Panurta, yang baru dinikahinya. Istri yang baru disetubuhinya setelah melewati empat puluh hari lamanya memberikan wejangan tentang ajaran tasawuf Jawa. Itu pun cuma dua hari. Kemudian ia melanjutkan pengembaraan mencari kedua adik kandungnya. Tapi malah terhanyut dalam kenikmatan pertapaan untuk mendekatkan diri kepadaNya. Ia lupa ada hal lain yang harus dia kerjakan selain melakukan jihad besar itu.

“Oh pangeran Giri! kamu telah membimbing jihad besarmu sedemikian jauhnya sehingga kamu alpa menjalankan jihad kecilmu,” ujar Endrasena, pengembara yang ditemuinya di tengah pengembaraannya.

Syekh Amongraga, sebelumnya bernama Jayengresmi. Ia putra mahkota Sunan Giri. Ia mengembara mencari dua adiknya, Jayengsari dan Rencangkapti. Kerajaan Giri baru saja diserang Sultan Agung, raja tanah Jawa karena penguasa Giri tak mau bersujud kepadanya. Kerajaan Giri hancur dalam kobaran api. Ayahanda, sang Khalifatullah ditangkap dan dibawa ke Mataram sebagai tahanan perang Sultan Agung.

Usai penyerangan itu, Jayengresmi mencari kedua adiknya yang hendak diajaknya lari dari kejaran pasukan Sultan Agung. Tapi ia tak menemukannya. Hatinya hancur. Ia pergi meninggalkan Giri tanpa seorang pun tahu, ia sendiri tak tahu ke mana hendak dituju dalam pengembaraannya. Ia mengikuti petunjuk Allah yang mengarahkannya berkelana masuk Suluk.
Dikisahkan Jayengsari dan Rencangkepti tak terpisah. Mereka juga mencari kakaknya di reruntuhan Giri. Tapi pencarian mereka sia-sia. Merekapun mengembara jauh, menghilang dari kejaran pasukan Mataram di bawah komando Pangeran Pekik.

Dalam pengembaraannya, Jayengresmi sudah berubah nama menjadi Amongraga. Ia tiba di pondok Wanamarta dan di sana ia menikahi Tembangraras, putri Ki Bayi Panurta, Kiai pesantren di sana.

Selama empat puluh hari lamanya kedua pasang penganten itu menunda hubungan badan di malam pertamanya. Amongraga menyampaikan ajaran tasawuf Jawa kepada sang istri. Ini dilakukan agar keduanya menjadi jinak dalam ketelenjangan tubuh mereka, dan menyingkap cadar rohnya dengan ketegangan syahwat serta batin. Abdi setia Tembangraras, Centini menyimak wejangan tuannya dari balik tirai ranjang. Baru pada malam empat puluh satunya yang hujan, keduanya bersenggama. Tapi, usai bersenggama Amongraga meningalkan Tembangraras untuk mengembara mencari kedua adiknya.

****

Keempat utusan ayahanda Tembangraras mendengar kabar jika Amongraga dihukum oleh ulama Mataram karena dituduh telah menyesatkan ribuan pengikutnya di Gunung Kidul tempat Amongraga bertapa Brata. Para pengikut itu diduga menjadi kehilangan akalnya karena terpengaruh guna-guna kedua murid Amongraga, Jamal dan Jamil. Amongraga dibuang ke tengah samudra. Kabar ini segara diwartakan oleh ke empat pengembara itu ke padepokan. Seisi padepokan tak bisa berkata-kata kecuali menitikan air mata. Namun kabar ini justru membuat Tembangraras yakin bahwa suaminya masih hidup. Bersama Centini, Tembangraras pagi-pagi buta meninggalkan padepokan mengembara mencari belahan jiwanya.

Dalam pengembarannya, kedua perempuan itu menyamar sebagai laki-laki. Mengenakan kumis dan berpakian menyerupai laiknya pria. Ditengah jalan mereka menjumpai ke perkampungan para gali kelas kakap. Tembangraras cemas. Ia tak habis pikir jika para pria bengis itu mengetahui jika tamunya yang mengaku santri pengembara ini adalah perempuan. Mereka pasti tak cuma merampok barang berhaganya, tapi juga kehormatannya. kekhawatiran Tembangraras benar-benar terjadi. Para perampok itu tahu ketika meraba-raba pakian Tembangraras untuk mengambil barang berhaga yang dibawanya, salah seorang menyentuh bagian tubuh kewanitaan putri jelita itu. Tapi Centini tak kehabisan akal. Dia menyodorkan bokongnya, seraya menantang para pria itu agar memasukkannya keduburnya. Ketika salah seorang hendak memasukkan ke dubur Centini, abdi setia Tembangraras itu menyemburkan kentut semarnya hingga terpentallah para pria di depannya dan dibuatnya kalang kabut.

Begitu lama Tembangraras dan Centini larut dalam pengembaraan. Sang Tuan Putri putus asa. Ia menggali kuburnya sendiri dengan tangannya yang sudah lemah. Ia membungkukkan tubuhnya dalam posisi duduk dengan kaki selonjor. Centini membujuk tuan junjunganya agar mengurungkan niatnya, tapi tak digubris. Tembangraras memasuki alam roh, mengutus abdi setianya Centini ke cakrawala. Di sana Tembangraras bertemu dengan Mangunarsa yang tak lain adalah Jayengsari dan Rencangkapti, kedua adik Amongraga yang telah mati.

Atas kekuasaan Allah, Amongraga tiba-tiba disadarkan jika semua saudaranya telah mati. Segera saja ia menghentikan pertapaannya dan menemui mereka. Beruntung jenazah-jenazah itu belum dimandikan. Di depan mayat itu Amongraga bersujud, dan ketiga mayat itu bisa hidup kembali karena sebenarnya mereka cuma pingsan. Tembangraras segera mengenali suaminya, sementara itu kedua adiknya yang terpisah sejak mereka masih kecil, sama sekali tak mengenali jika yang ada dihadapannya itu adalah kakaknya yang selama ini dicari. Tembangraras memperkenalkan Amongraga kepada kedua adiknya.

Begitulah kisah pengembaraan panjang Amongraga yang dikisahkan dalam jilid ke sembilan Centini di buku ini. Hingga akhirnya ia bertemu dengan pengembara asal Cina yang beragama islam. Dia adalah Endrasena. Amongraga sempat tegang menemui ratusan pasukan bersenjata di belakang pengembara tampan itu.

“Endrasena! Saudaraku! Apa yang kamu lakukan di situ?”
“San kamu? Hai pangeran Giri! Jadi begitu, kamu menjauhi semua makhluk untuk mendekatkan diri kepadaNya. kamu berupaya berada di kehadiranNya tapi kamu belum bisa lepas dari dirimu sendiri!”

Endrasena kemudian menantang Amongraga bermain petak umpet. Bagi yang memenangkan permainan ini akan mendapat kehadiranNya. Amongraga kalah. Di antara sinar kegelapan , Amongaraga bersujud. Dengan suara terpatah-patah, dia mengakui kekalahannya. Endrasena mengingatkan Amongraga bahwa dirinya terlalu berambisi kepada jihad besarnya, tapi ia lupa akan jihad kecil.

“Jihad yang mana?” tanya Amongraga.
“Apa kamu lupa bagaimana ayah kita Sunan Giri, telah dikalahkan Sultan Agung?Tak tahukah kamu bahwa beliau telah wafat merana di enjara Mataram,” jawab Endrasena. Amongraga masih belum juga paham. Endrasena kini benar-benar menghilang dari pandangannya.

Amongraga dan Tembangraras pergi ke Mataram menemui Aji Nyakrakusuma, panggilan Sultan Agung. Mereka menyatakan keinginannya untuk mencari kedamaian. Keingiannya itu disambut dengan santun oleh Sang Aji. Dikatakan oleh raja Mataram itu bahwa raja adalah orang yang terlalubesar yang dilanda rasa takut hebat. Ayah Amongraga mati karena terlalu menginginkan mahakuasa Allah ketimbang melayaninya.

“Badai telah menduduki tahta para raja,
Sebab untuk membuat gurun, Tuhan, Gusti kita semua.
Memulai dari raja dan mengakhiri pada angin.”

Maka atas perintah Sang Aji kedua pasang suami istri itu berubah menjadi ulat. Satu jantan dan satunya betina. Yang jantan cincinnya berwarna gelap dan berbulu, yang betina gelangnya merah dan gembur. Ulat yang jantan dimakan Sultan Agung yang akan menjadi putranya dan kelak akan menjadi raja. Ulat yang betina dimakan Pangeran Pekik, ipar sang raja, yang kelak akan menikahi sepupunya.

Tapi keturunan raja, yang diberi nama arab, Sayidin, yang kemudiangkat menjadi raja Amangkurat I itu melakukan pembantaian para ulama hingga membuatnya tak layak menerima gelar Sultan. Ia mensinyalir ada persekonkolan untuk menjatuhkannya. Ia memerintahkan prajuritnya membunuh siapa saja yang dicurigainya termasuk pamannya sendiri, Pangeran Pekik. Ia membunuh para pejabat Tua dan menggantikannya dengan yang lebih muda.

Persaingan perebutan kekuasaan pun terjadi antara anak dan bapak. Pangeran Anom yang mendapatkan dukungan dari pangeran dari pulau Madura melancarkan serangan ke Mataram. Sang raja melarikan diri hingga akhirnya menemukan ajalnya dalam pelariannya sebelum mencapai pesisir. Mayatnya dimakamkan di Tegalwangi. Di batu nisannya tertulis, yang entah oleh tangan siapa: “Hampir mati pada dirinya sendiri, hanya nafsu terakhirnya yang menjelma.”

****

Serat Centini, sama halnya dengan Serat Darmogandhul dan Suluk Gatholoco pernah menjadi perdebatan sengit di kalangan umat muslim di nusantara. Selain dituduh mengumbar seksualitas secara vulgar, mereka juga dituduh menghina ajaran Islam. Pelecehan terhadap ajaran Islam itu dialamatkan terhadap Serat Darmogandhul dan Suluk Gatholoco. Kedua karya ini sempat dilarang beredar pada masa pemerintahan Orde Baru. Kedua karya ini melukiskan potret “kaum abangan” yang awam terhadap Islam dan “kaum santri” yang terlalu mendewakan syariat.

Kaum santri, dalam Suluk Gatholoco karya pujangga dan ulama besar jawa Ranggawarsita, digambarkan begitu mudah terpancing emosinya ketika menghadapi orang abangan macam Gatholoco (dalam bahasa jawa artinya asal ngomong, asal njeplak). Ini adalah gambaran kaum santri yang sebenarnya dalam penguasaan ilmu agama masih dangkal, sehingga mereka begitu mudah memberikan cap “kafir” kepada orang lain. Berbeda dengan Sunan Kalijaga yang menyebarkan agama Islam dengan begitu lenturnya, bahkan bisa sambil bercanda, seperti ketika dirinya mengajak Prabu Brawijaya V masuk Islam. Sunan Kalijaga menjelaskan tentang islam, shalat dan makrifat layaknya pasangan yang sedang bersenggama.

Dalam konteks kekinian, karya-karya sastra besar Jawa itu bisa ditengok kembali untuk dijadikan sebagai refleksi perkembangan agama Islam di Indonesia dewasa ini. Bermunculannya gerakan-gerakan Islam yang cenderung radikal, yang menghalalkan segala cara belakangan ini sudah tercerabut dari ajaran-ajaran tasawuf Jawa yang arif dan bijaksana. Islam di Jawa dan nusantara pada umumnya, adalah agama yang secara historis berpijak dari akar budaya lokal yang sarat dengan laku dan budi pekerti luhur.

Mencermati perkembangan dunia kesusasteraan kontemporer di negeri ini, tampaknya mengalami kemunduran yang terlampau jauh. Terutama dalam hal kebebasan berekspresi. Dunia sastra kita sampai dengan hari ini masih sibuk mengkotak-kotakkan diri ke dalam kubu-kubu: sastra seks, sastra islami atau sastra moralis dan amoral. Masyarakat pembaca dan juga sastrawan terjebak dalam penafsiran-penafsiran dangkal atas suatu teks. Mengukur nilai-nilai sebuah karya sastra dengan ukuran moralitas yang semu.

Pertanyaanya, jika memang moral masih mau dijadikan sebagai ukuran baik-buruknya sebuah karya sastra, apakah dengan mengumbar seksualitas maka karya-karya sastra Jawa yang sudah tersohor hingga ke belahan penjuru dunia itu, dapat dikatakan tidak ber”moral”? Tidakkah mereka mengajarkan nilai-nilai budipekerti yang luhur? Wallohu alam bisyhowab….

De omnibus dubitandum. Segala sesuatu harus diragukan, kata Filsuf Rene Descartes. Kebenaran adalah pernyataan tanpa ragu.

Sementara sastra dinilai oleh banyak orang sebagai dunia rekaan yang menawarkan mimpi-mimpi dan penuh dusta. Ia hanya dunia refleksi, hanya bias atau bayang dari yang mewakilnya. Apapun yang bukan nyata, namun menyerupanya adalah dusta. Sastra adalah dusta di dalam dirinya. Demikian juga kartun, komik-komik, trgedi, atau apapun yang menjelma dalam sastra. Ia dapat menjelma menjadi kebenaran melalui pembenaran-pembenaran yang terjadi secara individual. Tak ada satupun prosedur yang memungkinkannya menjadi kebenaran massal atau kolektif.

Pernyataan dalam sebuah novel, puisi atau drama, tidak bisa dianggap benar secara harfiah. Ketiga jenis karya sastra itu, acuannya adalah dunia fiksi atau imaji. Seorang tokoh dalam novel berbeda dengan tokoh dalam sejarah atau tokoh yang hidup -tokoh sebenarnya. Akan tetapi tokoh dalam novel, hidup dari kalimat-kalimat yang mendeskripsikannya, dan dari kata-kata yang dirangkai oleh si pengarang.

Tokoh-tokoh dalam novel – shakespear, misalnya, diperlakukan seperti orang hidup. Padahal waktu dan ruang dalam sastra tidak sama dengan kehidupan nyata. Bahkan novel yang nampaknya realistis sekalipun, yang ditulis dengan gaya “potongan kehidupan” oleh para penulis naturalis, telah dibuat atas konvensi artistik tertentu.

Sebagai contoh, ada sebuah peristiwa tentang ditangkapnya seorang mahasiswa sesudah usaha demonstrasinya di depan parlemen dihalau dan dibubarkan oleh tentara. Sebuah media massa melaporkan berita tersebut dengan judul: “Oknum Mahasiswa Ditangkap Karena Menghina Presiden”; media yang lain menulis: “Karena Melawan Petugas , Seorang Demonstran Ditangkap”; atau yang lain lagi “Demo Di Depan Parlemen Dihalau Pasukan Huru-Hara: Seorang Mahasiswa Ditangkap.”

Semua kalimat di atas dapat dengan segera memiliki arti dan pemahaman yang berbeda: yang satu netral, satu mendukung, dan yang lainnya menentang. Mana yang benar, yang nyata? Tidakkah pemberitaan tersebut malah membuat sebuah kenyatan menjadi relatif tafsirnya; sebagaimana sebuah fiksi? kemudian apa yang didapat dari pembaca? Kebingungan.

Kenyataan atau kebenaran yang diungkap dalam media massa sebenarnya lebih banyak merupakan fiksi dari pada fakta. Menurut Rene Wellek dan Austin Werren dalam bukunya Theory of Literature, mengatakan bahwa fakta adalah rangkaian ruang dan waktu terjadinya sebuah peristiwa. Jadi fakta adalah peristiwa itu sendiri. Dan ketika peristiwa itu di tulis ulang -dilaporkan-ulang, sebenarnya fakta itu sudah bergeser menjadi fiksi.

Jika kita mengamati, peristiwa di atas dilaporkan oleh media dari berbagai sudut pandang. Ada yang netral, ada yang mendukung, dan ada yang secara keras menentangnya. Fakta -rangkaian ruang dan waktu peristiwa-. dalam peristiwa itu, banyak yang dihilangkan. Kejadian mendetail, bagaimana para pasukan tentara itu manangkap para demonstran, bagaimana dengan demonstran yang lain, dan bagaimana keadaan sekitarnya. Detail peristiwa itu tidak semuanya disajikan. Berita yang disampaikan adalah potongan peristiwa yang dilihat dari satu sudut pandang.

Meskipun didasarkan atas fakta dan data, ternyata kenyataan yang dikabarkan tidak bisa secara langsung direduksi menjadi sebuah kebenaran. Dalam ilmu jurnalistik, kebenaran dapat dengan mudah tergelincir. Apalagi kalau sumber berita, data, atau fakta itu memiliki kekuasaan yang berpengaruh besar. Dengan mudah seorang pejabat, misalnya, mengatakan keadaan aman terkendali, sementara angka kriminalitas yang tinggi dimanipulasi. Ataupun seorang wartawan yang memberitakan kondisi perusahaan milik seorang pengusaha besar “tak bermasalah”, sementara pembayarn kredit perusahannya macet lantaran takut ijin terbitnya akan dicabut atau jatah iklannya dikurangi.

Bill Kovach dan Rosenstiel dalam bukunya Elements of Journalism mengatakan kebenaran jurnalisme seharusnya bersifat fungsional; dapat digunakan dalam kehidupan praktis. Seorang polisi menangkap penjahat berdasarkan kebenaran fungsional. Dalam jurnalisme akurasi bukanlah sebuah tujuan. Akurasi hanya sebuah alat untuk menyampaikan kebenaran.

Seno Gumira Ajidharma lebih dikenal sebagai seorang penulis cerpen daripada wartawan. Padahal ia pernah berkarir di harian Jakarta-Jakarta. Seno menyampaikan peristiwa kekejaman di Timor-Timur ke dalam kumpulan cerpennya yang berjudul Saksi Mata. Kenapa ia tidak menulisnya dalam laporan jurnalistik? Pertanyaan ini dijawab dalam esainya Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara.

Muncul pertanyaan, apakah yang ditulis oleh Seno tersebut bisa dikatakan sebagai sebuah fakta, sebuah kebenaran? Bagaimana bila ternyata tokoh-tokoh dalam cerpennya itu ternyata fiktif, bukan nama sebenarnya. Ada bagian yang ditambah, atau bahkan didramatisir agar cerita lebih menarik?

Akan tetapi dusta dalam sastra, seperti yang dikatakan oleh Vincent Crummles, tokoh dalam karya Charles Dickens, Nicholas Nickleby. “art is not truth, art is a lie,” namun Crummles kemudian melanjutkan, “that reveals the truth.” Sastra adalah sebuah dusta, namun dusta yang menyingkap kebenaran.

Kita tidak bisa mengklaim seorang penyair yang mengekspresikan dirinya melalui puisi. Begitu juga kita tidak bisa menganggap apa yang diceritakan seorang novelis dalam certianya adalah sebuah dusta. Karena bisa saja apa yang ditulis oleh seorang penyair dalam puisinya, apa yang ditulis seorang pengarang dalam novelnya merupakan kebenaran. Kebenaran dari apa yang diamatinya dari penglaman, kebenaran dari apa yang diamatinya dari lingkungan sekitar, bahkan kebenaran dari apa yang dialaminya sendiri dalam perjalanan hidupnya.

Seorang penyair yang dalam puisi mbelingnya mengkritik dan mencaci sang penguasa tidak bisa dikatakan sebagai seorang penyebar propaganda. Seorang pengarang yang menceritakan sebuah kekejaman dalam novelnya bisa dikatakan adalah sebuah kebenaran adanya. Karena kebenaran sastra adalah kebenaran itu sendiri, karena sastra mempunyai dunianya sendiri, yaitu dunia reka atau imaji.

Sebagai sebuah kreasi imaji, karya satra memang tidak mampu menegakkan diri menjadi salah satu pusat legitimasi persoalan-persoalan sosial atau proses-proses institusional masyarakat yang memilikinya. Dunia imaji yang ditata dalam sastra adalah semesta yang menghimpun tak hanya kesadaran akal, namun juga kesadaran batin. Dunia empirik yang adanya tidak dapat dijelaskan oleh katagori sehari-hari yang kita pahami, sebagaimana pengalaman batin dan badan tidak akan pernah kita jelaskan secara menyeluruh. Karakter inilah yang membedakan karya satra dari produk laboratorium, telaah sejarah, atau penyusunan biografi.

Oleh karenanya, pembaca dituntut untuk memiliki persiapan untuk menghadapi karya sastra sehingga mampu untuk memahami maknanya secara maksimal. Posisi persepsi pembaca seperti inilah yang memungkinkan dusta sastra menjelma kebenaran apapun definisinya.

Namun sayangnya, seringkali kita “membunuh” pembaca dengan menyatakan bahwa mereka adalah sesuatu yang naif, polos, dan tak berpamrih. Inilah dusta yang sebenarnya, karena sementara itu, pembaca sebenarnya diam-diam, lewat sejarah membacanya, ia telah menyusun strategi ketika ia mengeksprsikan karya sastra. Lalu kenapa kita tidak mengkuinya?***

*Disampaikan dalam diskusi ces batere magang dasar LPM Hayamwuruk 2004 dan disampaikan lagi pada magang 2005. Judul ini diambil dari kumpulan esai Radhar Pancadahana (Gramedia: 2001?). Makalah ini disusun dari riset berbagai pustaka. Pembaca disarankan untuk membaca lebih lanjut buku-buku terkait.

dari kamar gelap

memungut yang terjatuh. menyusun kembali yang teralpa. mengabadikannya ke dalam tulisan. seperti ungkapan "Scripta manent verba volant" uang--tertulis akan tetap mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin. selamat menikmati!

yang terkubur