Ada info menarik buat anda yang mengikuti perselisihan antara komunitas Ode Kampung vs Utan Kayu. Saut Situmorang sepertinya masih terus melancarkan serangan ke kubu lawan. Nah ini ada Saut yang diwawancarai oleh majalah mahasiswa dari Universitas Indonesia. Tulisan ini saya dapatkan dari milis PPI-India yang diposting sendiri oleh Saut Situmorang.

WAWANCARA DENGAN SAUT SITUMORANG:
PERANG SASTRA boemipoetra vs TEATER UTAN KAYU (TUK)

1.Anda menyebut diri sebagai politisi sastra. Kami baru dengar istilah
itu. Apa tugas sentral profesi tersebut, tentunya dalam eksternal
sastra dan internal sastra?

SS: Hahaha… Istilah sebenarnya adalah “politikus sastra” dan aku
pakai sebagai keterangan-diri di eseiku yang berjudul “Politik
Kanonisasi Sastra” – yang merupakan makalahku untuk Kongres Cerpen
Indonesia V di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 26-28 Oktober lalu –
yang kusebar di Internet sebagai salah satu dari rangkaian seranganku
terhadap Teater Utan Kayu (TUK). Istilah itu sebenarnya sebuah istilah
ironis yang tongue-in-cheek, dimaksudkan untuk memberi nuansa kepada
isi eseiku itu. Tapi reaksi pembaca macam-macam. Hudan Hidayat yang
konon seorang novelis itu, misalnya, menyebutku “politisi sastra” di
Internet. Aku lebih suka istilah “politikus sastra”. “Politisi” itu
istilah apa?! Apa ada “kritisi” sastra?! Hudan Hidayat memang seorang
penulis bakat alam par excellence! Hahaha…

2.Jurnal Boemipoetra yang terbit beberapa bulan lalu, semacam aksi
propaganda demonstratif sastrawan Ode Kampung terhadap perlawanan
terhadap Komunitas Utan Kayu (KUK). Namun sebagian masyarakat
menyatakan itu bukan jurnal yang semestinya ilmiah sebab kata-kata
yang “kasar”?

SS: Coba perhatikan, kalimat macam apa yang kau tuliskan ini!
Membingungkan! Hehehe… Jurnal sastra boemipoetra (pake huruf kecil
semua!) adalah jurnal sastra paling keren dan cool sepanjang sejarah
sastra Indonesia karena fungsinya cuma satu: menghancurkan Teater Utan
Kayu (TUK)! Dan sudah terbit (tanpa mengemis dana ke Amerika Serikat
dan sekutu neo-kolonialnya) sampai empat edisi. Hahaha… Satu-satunya
“little magazine” sastra kita yang berani memakai apa yang kau sebut
sebagai “kata-kata yang `kasar'” itu! Mengutip Clark Gable dalam Gone
with the Wind, aku katakan kepada mereka-mereka yang tiba-tiba
(menjadi) moralis linguistik itu padahal konon sudah beyond morality
dalam kasus Sastra Porno Sastrawangi, seperti Manneke Budiman dosen
Universitas Indonesia itu: Frankly, my dear, I don’t give a damn!
Hahaha… Benar, jurnal boemipoetra memang bukan jurnal ilmiah kayak
Oxford Literary Review, Critical Inquiry, New German Review, New Left
Review, Social Text, atau Representations dan tidak punya pretensi
untuk menjadi jurnal ilmiah. Tapi apa memang (pernah) ada jurnal
“ilmiah” seperti yang aku sebutkan barusan di Indonesia? Nenek moyang
boemipoetra adalah majalah-majalah kecil yang diterbitkan kaum Dada
dan Surrealis di Eropa di awal abad 20 lalu, yang berisi baik
manifesto-manifesto gerakan-gerakan tersebut maupun serangan-serangan
keras mereka terhadap apa-apa yang pada saat itu mereka anggap
menjajah pemikiran budaya orang-orang Eropa. Dan bahasa yang mereka
gunakan bahkan jauh lebih “vulgar” dibanding “kata-kata kasar”
boemipoetra! Ada catatan penting: boemipoetra bukan sastrawan Ode
Kampung! Ode Kampung itu adalah kegiatan rutin yang dilakukan oleh
komunitas sastra Rumah Dunia di Serang, Banten. Secara ideologis dan
praktis boemipoetra justru sangat radikal dibanding Rumah Dunia dan
Ode Kampungnya itu. Juga kalau kalian pelajari komposisi redaksi
boemipoetra maka akan terlihat jelas keberagaman ideologi di dalamnya.
Kerancuan informasi ini memang sudah universal di dunia kangouw sastra
Indonesia dan ini cuma menunjukkan betapa parahnya orang kita membaca
persoalan, betapa tidak canggihnya imajinasi orang-orang sastra kita
dalam menafsirkan silsilah sebuah persoalan seperti Perang Sastra
antara boemipoetra vs TUK. Manneke Budiman adalah lagi-lagi contohnya.
Yang harus disadari lagi adalah bahwa Teater Utan Kayu (TUK) yang
dikuasai orang-orang sastra itu yang menjadi fokus dari
serangan-serangan kami, bukan Komunitas Utan Kayu (KUK) secara umum
dan yang macam-macam isinya itu. Makanya perang kami ini adalah Perang
Sastra! Musuh kami adalah Goenawan Mohamad dan segelintir penulis muda
yang berlindung di balik bayangannya yang tua. Segelintir
penulis-sekedar yang merasa sudah mencapai satori atau pencerahan
sastra padahal rata-rata masih medioker kemampuannya, baik kreatif
maupun kritis! Segelintir megalomaniak!

3.Letak keburukan TUK sehingga Anda begitu gencar untuk mengutuk mereka?

SS: Harus diakui bahwa pada awalnya mereka itu oke, kegiatan-kegiatan
yang mereka lakukan termasuk penerbitan majalah ikon mereka itu,
Kalam, merupakan angin segar dalam kondisi jenuh sastra kita yang
diakibatkan hegemoni majalah Horison dan Taman Ismail Marzuki (TIM).
Tapi itu hanya sebentar! Mereka kemudian merasa sudah menjadi
mainstream baru, sang dominan baru dalam sastra kita. Mereka sampai
merasa begini tentu saja tak dapat dilepaskan dari “pesona” yang
memang telah mereka timbulkan dalam kepala para sastrawan kita,
terutama di kota-kota besar kita. Mereka telah menjadi mitos baru yang
menggantikan mitos-mitos lama Horison dan TIM bagi para sastrawan yang
mulai dikenal publik sastra kita di periode 1990an, apa yang saya
sebut sebagai Sastrawan 90an itu, dan yang sedang merajai penerbitan
buku sastra saat ini. Mitos baru tentang TUK ini dimanfaatkan dengan
sangat canggih oleh Goenawan Mohamad dan segelintir penulis-sekedar
yang aku sebutkan di atas. Dominasi-tunggal atas dunia sastra kita
adalah ambisi ekstra-literer mereka. Ini dimulai dengan skandal
menangnya novel jelek berjudul Saman di Sayembara Roman Dewan Kesenian
Jakarta 1998. Memakai istilah salah seorang penulis-sekedar TUK
bernama Eko Endarmoko yang berpretensi keras mencari kelemahan esei
saya “Politik Kanonisasi Sastra” tapi gagal dengan mengenaskan itu
(karena kurang imajinasi tekstual dan miskinnya pengetahuan sejarah
sastra), menurut “kabar angin” naskah Saman itu sebenarnya sudah lewat
deadline pengiriman naskah tapi salah seorang juri menerimanya juga.
“Kabar angin” lain adalah bahwa salah seorang juri Sayembara Roman DKJ
1998 itu menerima naskah Saman dari seorang tukang sapu gedung dimana
para juri sedang memeriksa naskah-naskah yang masuk dan naskah
tersebut didapatkan tukang sapu itu di dalam tong sampah! Siapa saja
tentu saja bebas menafsirkan legenda yang diciptakan seputar Saman ini
sama seperti para penilai Prince Claus Award yang memenangkan Ayu
Utami pada tahun 2000 untuk novel satu-satunya itu dengan alasan bahwa
“karyanya dianggap meluaskan batas penulisan dalam masyarakatnya”!
Bagaimana para juri Prince Claus Award bisa menilai kedahsyatan novel
tersebut padahal tak satupun terjemahan bahasa asingnya sudah ada pada
waktu itu hanya Goenawan Mohamad yang tahu. Coba baca prosa-pendek Ayu
Utami (yang diklaim sebagai “kolom” itu) di media massa cetak seperti
koran Seputar Indonesia Minggu. Masuk akalkah seseorang yang diklaim
oleh sebuah institusi internasional sejenis Prince Claus Award sebagai
“meluaskan batas penulisan dalam masyarakatnya” cuma mampu
menghasilkan cakar-ayam yang bahkan lebih jelek dari medioker seperti
itu! Aku kasih sebuah “kabar angin” lagi. Kalau Saman itu sebuah
fragmen dari karya panjang (yang sekarang kita tahu adalah Saman dan
Larung) lantas kenapa Saman bisa begitu sensasional legendanya
sementara Larung sunyi senyap?! Karya Pramoedya Ananta Toer yang jauh
lebih panjang aja, yaitu Tetralogi Buru, tidak begitu jauh jarak
“mutu”nya antara satu fragmen dengan fragmen lainnya. Bicara tentang
Pram, bukankah komentar Pram di sampul belakang Saman itu adalah
sebuah manipulasi tekstual paling brengsek dalam sejarah promosi
sebuah karya sastra di negeri ini! Kalau memang benar Saman yang
memenangkan Sayembara Roman DKJ 1998 dan Prince Claus Award 2000 itu
begitu “dahsyat” seperti yang diklaim Sapardi Djoko Damono, Faruk dkk,
untuk apa lagi dia mesti memelintir komentar Pram yang pada dasarnya
menganggap novel itu jelek!

Kejahatan TUK semacam ini, yaitu manipulasi informasi, berkali-kali
mereka lakukan. Yang langsung bersentuhan dengan aku adalah “laporan”
di majalah-berita Tempo yang konon ditulis oleh Ags Dwipayana (aku tak
ingat nama lengkapnya tapi orang ini orang teater, menurut “kabar
angin”) tentang Temu Sastra Internasional 2003 yang diselenggarakan
TUK di Solo. “Laporan” yang pada dasarnya mengelu-elukan program
sastra TUK itu dan mengejek aku dan kawan-kawan Solo yang memprotesnya
dengan keras karena tidak melibatkan seorangpun sastrawan Solo kecuali
sebagai pembawa acara, hahaha…, ternyata tidak ditulis berdasarkan
pandangan mata langsung “pelapor”nya! Si penulisnya tidak pernah hadir
di Solo sama sekali selama dua-hari acara TUK itu dan menurut “kabar
angin” semua infonya diberikan oleh Yang Mulia Goenawan Mohamad! Kasus
Solo ini menjadi penting dalam “arkeologi dusta TUK”, hahaha…, kalau
kita kaitkan dengan Kasus Chavchay Syaifullah, wartawan budaya Media
Indonesia yang dipecat bosnya sebagai wartawan budaya karena pengaduan
langsung Goenawan Mohamad. Chavchay menulis di korannya tentang acara
Utan Kayu International Literary Biennale yang diadakan di TIM bulan
Agustus lalu dan Goenawan Mohamad tersinggung atas laporan pandangan
mata langsung Chavchay itu. Alasan Goenawan Mohamad, Chavchay dalam
laporannya itu telah melakukan “fitnah” karena tidak menjalankan asas
“cover both sides”, yaitu “tak mencoba mendapatkan dan memuat versi
panitia dan TIM” paling tidak tentang diusirnya penyair Geger dari
tempat acara. Padahal Chavchay punya rekaman pernyataan Geger bahwa
dia diusir! Sontoloyo, itulah komentarku! Kekuasaan sipil yang sudah
mulai menjadi diktatorial!

Masih mau lagi? Hahaha… Coba perhatikan jaringan kekuasaan yang
sudah dibentuk TUK saat ini untuk menguasai dunia sastra kita: Hasif
Amini di koran Kompas Minggu, keikutsertaan TUK dalam menyeleksi
sastrawan lokal untuk Ubud Writers and Readers Festival, Ayu Utami di
DKJ, dan “kabar angin” lagi Sitok Srengenge bakal menjadi redaktur
sastra koran Media Indonesia Minggu! Sitok ini juga yang menurut
“kabar angin” lain pernah sesumbar bahwa “Sastrawan Indonesia” itu
adalah cuma mereka yang pernah diundang ikut acara sastra TUK!
Megalomaniak gak, hahaha… Dulu waktu dia dan Medy Loekito dari
komunitas kami Cybersastra ada di Iowa mengikuti program menulisnya,
si penyair rima-dalam ini, hahaha…, pernah berkata bahwa dalam
berbahasa Inggris, dia kalah dengan Medy, tapi dalam menulis puisi,
dia lebih unggul! Uh, hebatnya, hahaha… Kalau dia tak bisa berbahasa
Inggris, kok bisa dia mewakili Sastra(wan) Indonesia ke Iowa? Saat ini
yang mewakili Sastra(wan) Indonesia ke Iowa adalah, you guess it!…
monsieur Nirwan Dewanto, hahaha… Sejak kapan redaktur koran ini
jadi sastrawan dan mana karya sastranya? Mestinya kan penyair dan
politikus sastra Saut Situmorang dong yang mewakili TUK, dan sastra
Indonesia, ke Iowa, iya kan, hahaha…

O iya, sebelum aku lupa dan ada juga kaitannya sedikit dengan soal
majalah “ilmiah” yang kita singgung di atas. Pernah baca buku kumpulan
esei Goenawan Mohamad berjudul Setelah Revolusi Tak Ada Lagi (AlvaBet,
2001)? Coba baca kata pengantar buku itu berjudul “Ke-Lain-an Goenawan
Mohamad” yang ditulis oleh Hamid Basyaib! Atau baca ringkasannya di
blurb sampul belakang buku! Dengan tidak ada rasa malu sama sekali dia
mengklaim Goenawan Mohamad sebagai “esais terbaik Indonesia”, “orang
Barat yang lahir di Batang” dan dalam kumpulan eseinya itu “ia
membahas Brecht, Derrida, Adorno, Habermas, Nietcszhe [sic], Camus,
Benjamin dan banyak nama penting lain dalam jagat pemikiran Barat
bagai berbincang akrab dengan teman dekat”, “semuanya disorotinya
dengan perangkat kritik sastra, yang digunakannya dengan kemahiran tak
tertara”! Nah pertanyaan sederhanaku ini aja: Kalau Goenawan Mohamad
itu memang begitu hebat, kok dia gak nulis di jurnal-jurnal ilmiah
seperti yang kusebutkan di atas tadi aja? Kita kan bisa jadi sangat
bangga kalau ada seorang penulis hebat kita yang tulisan kritiknya
bisa muncul di jurnal ilmiah standar internasional ketimbang sekedar
di media lokal doang! Inilah contoh megalomania narsisistik Teater
Utan Kayu par excellence, hahaha…

4. Sudah tentu TUK, menganggapnya sebagai angin lalu. Bahkan fitnah?

SS: Jelas dong. Mana ada yang suka kebusukannya diekspos, apalagi
sekelompok megalomaniak.

5.Manifesto Boemipoetra telah kami pelajari. Rasa sosial dan
solidaritas tinggi serta anti-Liberalisme, rupanya tertanam kuat di
diri sastrawan Ode Kampung. Berangkat dari kemanusian, apakah Anda
tidak takut pengecaman Anda dkk. justru menjadi bumerang?

SS: Sekali lagi, jangan samakan boemipoetra dengan Ode Kampung. Tahu
kan apa itu bumerang? Bumerang itu adalah senjata tradisional bangsa
Aborijin Australia yang dipakai dengan melemparkannya ke objek yang
ingin dilumpuhkan. Karena bentuknya melengkung dan cara melemparkannya
khas, bumerang bisa kembali ke pemiliknya kalau tidak mengenai
sasarannya. Kalau seseorang tidak sigap atau pandai menangkap bumerang
yang terbang kembali itu, maka bocorlah kepalanya, hahaha… Maka
ketahuan pula kalau dia bukan pemilik sebenarnya! Nah apa yang terjadi
sekarang adalah bumerang itu tak bisa ditangkap kembali oleh Goenawan
Mohamad dan para penulis-sekedarnya maka bocorlah kepala mereka, hahaha…

6.Menurut Anda mengapa setelah terbitnya Jurnal Boemipoetra, TUK tidak
membalas sama sekali serangan Anda?

SS: Karena mereka itu cuma mitos belaka, tak ada esensinya. Karena isi
boemipoetra tak bisa mereka bantah. Karena mereka takut kalau
merespons maka semua kebusukan mereka akan jadi terbuka. Lebih baik
didiamkan saja kan. Atau seperti “kabar angin” tentang apa yang
dikatakan Goenawan Mohamad: apa Saut itu masih tahan menyerang sampai
enam bulan lagi? Kalau tak salah, aku sudah menyerang TUK sejak tahun
2003 dan sekarang makin asyik aja, hahaha…

7. Seorang millist bernama Radityo yang disinyalir sebagai tangan
kanan TUK, menyerang Anda habis-habisan. Anda bisa jelaskan ini?

SS: Hahaha… Radityo Djadjoeri itu adalah keponakan Goenawan Mohamad.
Dia sendiri yang ngaku begitu di Internet dan aku pun pernah
mempostingkan data yang kudapat di Internet tentang keluarga besar
mereka yang keturunan Arab-Kurdi itu. Radityo yang konon tamatan
FE-UII Jogja ini memang seorang cyberpsikopat! Dulu dia juga pernah
punya problem besar dengan Farid Gaban dari Republika dan melakukan
teknik pencemaran nama yang sama, yaitu dengan menciptakan tokoh-tokoh
cyber fiktif yang menyerang dengan alamat email buatan. Untuk
menghadapi aku yang memang jauh di atas kelas intelektualnya ini,
hahaha…, dia bahkan menciptakan milis-milis baru seperti yang
bernama “sautisme@yahoogroups.com” itu. Tapi manalah pulak awak bisa
dikerjainnya! Buktinya, justru dia sekarang yang dicekal dari begitu
banyak milis Indonesia di Internet, hahaha…

8.TUK diperkirakan sebagai benih-benih sastra imperialis, yang secara
general pernah disembulkan Taufik Ismail. Apakah kelahiran Jurnal
Boemipoetra berangkat dari pernyataan Taufik?

SS: Harus disadari lagi bahwa boemipoetra tak ada hubungan apa-apa
dengan Taufiq Ismail atau jelasnya dengan Kasus Taufiq Ismail vs Hudan
Hidayat. Dan boemipoetra lahir bukan karena Taufiq Ismail ataupun
pernyataan publiknya!!! Kami bertujuan membabat utan kayu, titik. Aku
sendiri secara pribadi bertentangan dengan Taufiq Ismail soal Marxisme
dan Lekra. Aku ini Marxist tapi Marxisme seperti yang diejek-ejek
Taufiq Ismail tak pernah ada dalam Marxisme! Dia tak bisa membedakan
antara politik partai dan sebuah isme pemikiran. Dalam sejarah
peradaban manusia, isme yang paling kritis dan paling membela harkat
orang banyak hanyalah Marxisme! Dan lawan utama Marxisme bukan Agama
Monotheis seperti yang dirancukan Taufiq Ismail dkk, tapi
Liberalisme-Kapitalisme yang justru telah menyebabkan matinya agama
Kristen di Barat dan timbulnya kolonialisme di Asia, Afrika,
Australia, Pasifik dan benua Amerika! Bagi boemipoetra, TUK adalah
agen imperialisme Liberalisme-Kapitalisme terutama Amerika Serikat di
sastra Indonesia, lewat program-program sastranya. Mudahnya akses bagi
orang-orang TUK dan sekutunya ke program-program di Amerika Serikat,
seperti program menulis Iowa itu misalnya, sementara orang-orang yang
non-TUK ditolak visa mereka oleh Kedutaan Amerika Serikat, adalah
bukti nyata.

9.Seks dan agama adalah keberlainan bahkan kebertentangan, Ayu Utami,
yang selanjutnya diikuti Nukila Amal, dan Dewi Lestari sebagaimana
Taufik yang menyatakan mereka bagian dari Fiksi Alat Kelamin (FAK) dan
(GSM). Apakah Anda menyerang lini ini dengan berpusar pada pijak agama?

SS: Gawat! Siapa yang bilang bahwa “seks dan agama” itu bertentangan!
Apa ada “agama” yang melarang seks! Gereja Katolik yang melarang
pastor untuk kawin itu aja tidak melarang seks bagi yang non-pastor!!!
Ketidakhati-hatian orang kita dalam berbahasa memang sudah fenomenal.
boemipoetra tidak anti-seks malah sangat suka seks! Yang dilawan
boemipoetra adalah eksploitasi seks (seksploitasi) sebagai standar
estetika sastra (paling) bermutu, yang mengorbankan estetika sastra
non-seks seperti nilai-nilai Islami pada Forum Lingkar Pena misalnya.
Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu dan Dinar Rahayu adalah para penulis
perempuan Indonesia yang mengeksploitasi seks dalam tulisan mereka dan
menjadi terkenal karenanya. Menjadi dibaca tulisannya karenanya. Itu
saja alasannya kenapa mereka dibaca. Lucu ya bahwa ketiga perempuan
tukang eksploitasi seks perempuan ini punya nama sama, yaitu “Ayu”.
Mungkin nama Sastrawangi musti diganti jadi “Sastrayu”, hahaha…

10.Sastra TUK jelas berbeda, mereka mengakomodir tulisan dengan
kualitas tinggi. Bahkan mereka tidak akan menerbitkan karya yang
dianggap “tidak layak” di jurnal Kalam. Berarti Sastra TUK punya pagar
untuk menyempitkan dunianya(red). Eksklusivitas ini rupanya yang tidak
diterima oleh Anda dkk. Mengapa?

SS: Hahaha… Itulah mitos yang berhasil dibangun TUK tentang dirinya
dan dikunyah bulat-bulat oleh banyak sastrawan muda termasuk fakultas
sastra yang seharusnya lebih kritis daripada sastrawan sendiri!

Kalam itu kan cuma majalah budaya umum dan “kekuatan”nya terletak
lebih pada esei-esei budaya yang dimuatnya, bukan pada puisi atau
cerpennya. Kolom puisi Kompas Minggu sewaktu ditangani Sutardji
Calzoum Bachri jauh lebih tinggi reputasinya bagi para penyair
Indonesia ketimbang Kalam. Bukankah cerpen yang dimuat di koran Kompas
yang dianggap cerpen nyastra yang bermutu? Sastra TUK itu apa? Yang
“sastrawan” di TUK itu kan cuma Goenawan Mohamad, Sitok Srengenge dan
Ayu Utami. Ini kan sastra TUK itu.

Soal “kualitas tinggi” TUK. Apa tinggi kualitasnya puisi Sitok, bahkan
Goenawan Mohamad sekalipun? Apa tinggi kualitasnya esei-esei Nirwan
Dewanto atau Hasif Amini? Terjemahan Hasif atas cerpen-cerpen Jorge
Luis Borges (dari terjemahan bahasa Inggris) aja jelek tapi
dipuji-puji setinggi langit oleh sesama orang TUK! Apa tinggi
kualitasnya program biennale sastra TUK yang mengklaim Avi Basuki dan
Laksmi Pamuntjak sebagai “sastrawan internasional Indonesia” itu? Apa
yang pernah ditulis Laksmi Pamuntjak dalam “sastra Indonesia”? Yang
benar adalah bahwa manipulasi informasi TUK memang berkualitas tinggi,
hahaha…

11.Apa perjuangan Anda dkk. sudah selesai?

SS: Apa TUK sudah hancur? Hahaha…

12.Dengan duduknya Hasif Amini di Kompas dan Nirwan Dewanto di Tempo,
sudah tentu makin melambungkan sastra TUK yang Anda sinyalir sebagai
kelompok yang berambisi menoreh sejarah sastra. Benarkah?

SS: Sudah aku jawab di atas.

13.Mahasiswa, sebagai akademisi sastra yang belum terbaluri pengaruh
ini, sebaiknya ada di posisi mana?

SS: Masak mahasiswa sastra belum terkena pengaruh mitos TUK! Yang
benar aja ah.
Pertanyaan No.10 di atas kan jelas menunjukkan betapa kalian sudah
sangat dalam dipengaruhi oleh “pesona” mitos TUK itu! Sadarlah dan
kembalilah ke jalan yang benar! Hahaha…

14.Anda tidak meluaskan propaganda ke kalangan mahasiswa. Mengapa?

SS: Lha wawancara ini apa namanya kalau bukan propaganda
demitologisasi TUK, hahaha…

15.Kanonisasi Sastra dapatkah Anda jelaskan secara singkat?

SS: Kanon adalah sekelompok karya yang, minimal, selalu ada dalam
kurikulum pengajaran sastra di sekolah dan perguruan tinggi. Sebuah
karya yang bisa masuk jadi anggota kanon sastra tentu saja akan
terangkat reputasi sastranya, dan pengarangnya, dalam hierarki kelas
“kedahsyatan” artistik dalam sejarah sastra. Dan bisa dipastikan akan
terus menerus dicetak-ulang sekaligus dibahas-ulang dalam skripsi,
tesis dan disertasi.

Tentu saja semua pengarang ingin semua karyanya bisa masuk dalam kanon
sastra, paling tidak sebuah bukunya. Tapi kenyataannya cuma segelintir
saja pengarang yang bernasib mujur begini. Ketidakmujuran nasib banyak
pengarang dalam peristiwa kanonisasi sastra inilah yang menimbulkan
pertanyaan: Kok karya S Takdir Alisjahbana bisa masuk kanon sementara
cerita silat Kho Ping Hoo nggak? Kenapa puisi Goenawan Mohamad, bukan
Saut Situmorang? Masak cerpen Seno Gumira Ajidarma masuk tapi cerpen
Hudan Hidayat kagak? Apakah karena cerpen Seno punya “substansi”
sementara cerpen Hudan cuma begitu-begitu aja? Puisi Goenawan Mohamad
“sublim” tapi Saut Situmorang cuma bermain-main dengan
intertekstualitas dan tidak tertarik pada “kedalaman” simbolisme
pasemon puitis? Apa sebenarnya yang menjadi “kriteria” dalam seleksi
kanon (canon formation)? Apakah “substansi” sastra atau “sublimitas”
sastra seperti yang diyakini Hudan Hidayat dan para pengarang bakat
alam lainnya itu? Apakah estetika satu-satunya standar dalam menilai
mutu karya? Kalau benar, lantas apakah “estetika” itu? Adakah karya
sastra yang an sich benar-benar “dahsyat” dan “universal”? Apakah
karya sastra itu memang otonom, bebas nilai, tidak tergantung pada
hal-hal di luar dirinya untuk menentukan baik-buruk mutunya? Atau ada
hal-hal lain di luar teks karya – mulai dari komentar para “pengamat”
sampai ekspose di media massa atas sosok sang pengarang – yang menjadi
faktor dominan dalam terpilih-tidaknya sebuah karya sastra menjadi
anggota kanon sastra?

Sastra kontemporer kita rusak karena dilettante sastra, petualang
sastra seperti TUK, Kompas dan Richard Oh dengan sensasi duit
Katulistiwa Literary Award-nya itu merajalela membuat kanon-kanon
sastra baru tanpa kriteria yang bisa dipertanggungjawabkan dan para
sastrawan pada cuek aja. Inilah efek apolitisasi sastra Orde Baru!

16.Bang Saut setiap jawaban Abang akan kami publikasikan. Silahkan
menambahkan sesuatu yang perlu Abang uraikan. Tapi kami tetap
menjaga etika jurnalisme.
Terima kasih banyak.
Salam untuk Wowok dkk.

SS: Terimakasih juga. Wawancara kalian ini adalah wawancara pertama
yang dilakukan dengan boemipoetra untuk mendengarkan perspektif
boemipoetra tentang Perang Sastra boemipoetra vs TUK. Selama ini cuma
Goenawan Mohamad dan anggota TUK lainnya aja yang diberikan kesempatan
bicara secara formal dalam sebuah wawancara. Kalian sudah bertindak
adil! Bravo! Aku juga mengharapkan kalian berani memuat semua yang aku
nyatakan di sini. Berani seperti boemipoetra! Kalau mahasiswa aja
sudah gak berani mengeluarkan pendapatnya dalam media kampusnya
sendiri, apalagi dengan alasan mitos “etika jurnalisme” yang cuma
menguntungkan kekuasaan status quo itu, untuk apa kita punya
universitas di negeri ini! Mitomania harus dilawan oleh semua
mahasiswa yang menganggap dirinya berbudaya dan kritis, terutama oleh
mahasiswa sastra. Ingat apa yang dikatakan George Orwell: During times
of universal deceit, telling the truth becomes a revolutionary act!

Advertisements