You are currently browsing the monthly archive for November 2007.

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

…………………………………………..

Dikutip dari puisi “Aku” karya Chairil Anwar .

Barangkali sajak Chairil Anwar itulah yang cukup bisa menjelaskan sikap Erskine Cadwell ketika memutuskan meninggalkan karir jurnalistiknya di The Atlanta Journal demi menjadi penulis fiksi profesional. Seperti yang didapatkan setelah membaca sajak “Si Binatang Jalang” itu, kesan yang muncul dari sikap Erskine itu, dia adalah pribadi yang angkuh dan tak kenal kompromi. Baik Chairil maupun Erskine sepertinya tak mau berdamai dengan keadaan, sebaliknya mereka malah hendak menaklukkannya. Jelas saja keputusan Erskine itu membuat cemas beberapa rekan kerjanya. Read the rest of this entry »

Unik, begitulah sosok Andrea Hirata. Penulis novel Laskar Pelangi itu berlatar belakang pendidikan ekonomi. Tapi dia juga meminati bidang keilmuan (science). Belakangan dia menulis novel. Ternyata karyanya laku keras dan mendapatkan pujian dari sejumlah pakar sastra.

Seperti yang diakui Andrea, Laskar Pelangi adalah kisah masa kecilnya. Masa kecil di sebuah desa miskin di Belitong. Laskar Pelangi adalah novel perdananya. Buku kedua, Sang Pemimpi, seperti juga buku perdananya, menjadi best seller. Read the rest of this entry »

Cerita pendek atau yang biasa disebut “cerpen” sebagai salah satu genre sastra memiliki keunikan tersendiri. Ia bisa menceritakan pengalaman penulis dan bisa juga hanya merupakan imajinasi entah-berantah yang sengaja direka oleh pengarang. Seperti karya sastra pada umumnya, batasan fakta dan fiksi dalam cerpen tidak jelas. Bahkan jika mengacu pada wacana postmodern, seperti kajian teks ala Roland Barthes (Baca: Merayakan Kematian Pengarang, Mission Impossible: Menggugat Missi Pengarang dalam Karya Sastra) fakta dalam karya sastra, tidaklah penting.

Tapi bagaimana jika cerpen itu menyajikan sesuatu yang faktual. Ia disusun dari fakta, peristiwa yang benar-benar disaksikan ataupun dialami langsung oleh pengarang. Seperti yang dikisahkan oleh Rosidi dalam bedah cerpen “Opera Zaman” di Komunitas Sendang Mulyo Semarang, Rabu (29/11) malam. Read the rest of this entry »

Nugroho Suksmanto, siapa sih pemilik nama ini. Sepertinya masih asing dalam dunia penulisan, khususnya karya Sastra. Tapi bukunya “Petualangan Celana Dalam” diterbitkan Gramedia, penerbit yang memiliki nama besar di Indonesia. Jangan-jangan?

Pertanyaan dan (kemudian) kecurigaan itulah yang barangkali muncul dalam benak orang ketika pertama kali mendengar nama penulis buku kumpulan cerpen (kumcer) “Petualangan Celana Dalam” yang baru-baru ini diluncurkan di Semarang. Read the rest of this entry »

KEMATIAN pengarang yang diwacanakan Roland Barthes pada 1967 tak habis-habis diperbincangkan. Selain Michael Foucault, boleh jadi sudah ribuan orang mengkritik atau mengamini tesis filsuf dan kritikus Prancis itu, baik lisan maupun tulisan.

Selasa (6/3) malam, ikhwal kematian pengarang itu kembali didiskusikan dalam acara Ngobrol Sastra dan Rerasan Budaya di joglo Fakultas Sastra Undip, Jalan Hayamwuruk 4, Semarang. Belasan peminat sastra menghadiri perhelatan bertajuk “Benarkah Pengarang Sudah Mati?” yang diselenggarakan buletin sastra Hysteria dan Komunitas Sendangmulyo itu.

Dalam “The Death of the Author”, Barthes mengemukakan, pengarang seharusnya lesap ke dalam teks untuk kemudian menghilang. Jadi, ketika pembaca datang untuk memaknai teks, ia tak lagi menemukan jejak pengarang. Teks yang lahir menghalangi jarak pandang pembaca ke pengarang. Read the rest of this entry »

dari kamar gelap

memungut yang terjatuh. menyusun kembali yang teralpa. mengabadikannya ke dalam tulisan. seperti ungkapan "Scripta manent verba volant" uang--tertulis akan tetap mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin. selamat menikmati!

yang terkubur