You are currently browsing the monthly archive for January 2006.

De omnibus dubitandum. Segala sesuatu harus diragukan, kata Filsuf Rene Descartes. Kebenaran adalah pernyataan tanpa ragu.

Sementara sastra dinilai oleh banyak orang sebagai dunia rekaan yang menawarkan mimpi-mimpi dan penuh dusta. Ia hanya dunia refleksi, hanya bias atau bayang dari yang mewakilnya. Apapun yang bukan nyata, namun menyerupanya adalah dusta. Sastra adalah dusta di dalam dirinya. Demikian juga kartun, komik-komik, trgedi, atau apapun yang menjelma dalam sastra. Ia dapat menjelma menjadi kebenaran melalui pembenaran-pembenaran yang terjadi secara individual. Tak ada satupun prosedur yang memungkinkannya menjadi kebenaran massal atau kolektif.

Pernyataan dalam sebuah novel, puisi atau drama, tidak bisa dianggap benar secara harfiah. Ketiga jenis karya sastra itu, acuannya adalah dunia fiksi atau imaji. Seorang tokoh dalam novel berbeda dengan tokoh dalam sejarah atau tokoh yang hidup -tokoh sebenarnya. Akan tetapi tokoh dalam novel, hidup dari kalimat-kalimat yang mendeskripsikannya, dan dari kata-kata yang dirangkai oleh si pengarang.

Tokoh-tokoh dalam novel – shakespear, misalnya, diperlakukan seperti orang hidup. Padahal waktu dan ruang dalam sastra tidak sama dengan kehidupan nyata. Bahkan novel yang nampaknya realistis sekalipun, yang ditulis dengan gaya “potongan kehidupan” oleh para penulis naturalis, telah dibuat atas konvensi artistik tertentu.

Sebagai contoh, ada sebuah peristiwa tentang ditangkapnya seorang mahasiswa sesudah usaha demonstrasinya di depan parlemen dihalau dan dibubarkan oleh tentara. Sebuah media massa melaporkan berita tersebut dengan judul: “Oknum Mahasiswa Ditangkap Karena Menghina Presiden”; media yang lain menulis: “Karena Melawan Petugas , Seorang Demonstran Ditangkap”; atau yang lain lagi “Demo Di Depan Parlemen Dihalau Pasukan Huru-Hara: Seorang Mahasiswa Ditangkap.”

Semua kalimat di atas dapat dengan segera memiliki arti dan pemahaman yang berbeda: yang satu netral, satu mendukung, dan yang lainnya menentang. Mana yang benar, yang nyata? Tidakkah pemberitaan tersebut malah membuat sebuah kenyatan menjadi relatif tafsirnya; sebagaimana sebuah fiksi? kemudian apa yang didapat dari pembaca? Kebingungan.

Kenyataan atau kebenaran yang diungkap dalam media massa sebenarnya lebih banyak merupakan fiksi dari pada fakta. Menurut Rene Wellek dan Austin Werren dalam bukunya Theory of Literature, mengatakan bahwa fakta adalah rangkaian ruang dan waktu terjadinya sebuah peristiwa. Jadi fakta adalah peristiwa itu sendiri. Dan ketika peristiwa itu di tulis ulang -dilaporkan-ulang, sebenarnya fakta itu sudah bergeser menjadi fiksi.

Jika kita mengamati, peristiwa di atas dilaporkan oleh media dari berbagai sudut pandang. Ada yang netral, ada yang mendukung, dan ada yang secara keras menentangnya. Fakta -rangkaian ruang dan waktu peristiwa-. dalam peristiwa itu, banyak yang dihilangkan. Kejadian mendetail, bagaimana para pasukan tentara itu manangkap para demonstran, bagaimana dengan demonstran yang lain, dan bagaimana keadaan sekitarnya. Detail peristiwa itu tidak semuanya disajikan. Berita yang disampaikan adalah potongan peristiwa yang dilihat dari satu sudut pandang.

Meskipun didasarkan atas fakta dan data, ternyata kenyataan yang dikabarkan tidak bisa secara langsung direduksi menjadi sebuah kebenaran. Dalam ilmu jurnalistik, kebenaran dapat dengan mudah tergelincir. Apalagi kalau sumber berita, data, atau fakta itu memiliki kekuasaan yang berpengaruh besar. Dengan mudah seorang pejabat, misalnya, mengatakan keadaan aman terkendali, sementara angka kriminalitas yang tinggi dimanipulasi. Ataupun seorang wartawan yang memberitakan kondisi perusahaan milik seorang pengusaha besar “tak bermasalah”, sementara pembayarn kredit perusahannya macet lantaran takut ijin terbitnya akan dicabut atau jatah iklannya dikurangi.

Bill Kovach dan Rosenstiel dalam bukunya Elements of Journalism mengatakan kebenaran jurnalisme seharusnya bersifat fungsional; dapat digunakan dalam kehidupan praktis. Seorang polisi menangkap penjahat berdasarkan kebenaran fungsional. Dalam jurnalisme akurasi bukanlah sebuah tujuan. Akurasi hanya sebuah alat untuk menyampaikan kebenaran.

Seno Gumira Ajidharma lebih dikenal sebagai seorang penulis cerpen daripada wartawan. Padahal ia pernah berkarir di harian Jakarta-Jakarta. Seno menyampaikan peristiwa kekejaman di Timor-Timur ke dalam kumpulan cerpennya yang berjudul Saksi Mata. Kenapa ia tidak menulisnya dalam laporan jurnalistik? Pertanyaan ini dijawab dalam esainya Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara.

Muncul pertanyaan, apakah yang ditulis oleh Seno tersebut bisa dikatakan sebagai sebuah fakta, sebuah kebenaran? Bagaimana bila ternyata tokoh-tokoh dalam cerpennya itu ternyata fiktif, bukan nama sebenarnya. Ada bagian yang ditambah, atau bahkan didramatisir agar cerita lebih menarik?

Akan tetapi dusta dalam sastra, seperti yang dikatakan oleh Vincent Crummles, tokoh dalam karya Charles Dickens, Nicholas Nickleby. “art is not truth, art is a lie,” namun Crummles kemudian melanjutkan, “that reveals the truth.” Sastra adalah sebuah dusta, namun dusta yang menyingkap kebenaran.

Kita tidak bisa mengklaim seorang penyair yang mengekspresikan dirinya melalui puisi. Begitu juga kita tidak bisa menganggap apa yang diceritakan seorang novelis dalam certianya adalah sebuah dusta. Karena bisa saja apa yang ditulis oleh seorang penyair dalam puisinya, apa yang ditulis seorang pengarang dalam novelnya merupakan kebenaran. Kebenaran dari apa yang diamatinya dari penglaman, kebenaran dari apa yang diamatinya dari lingkungan sekitar, bahkan kebenaran dari apa yang dialaminya sendiri dalam perjalanan hidupnya.

Seorang penyair yang dalam puisi mbelingnya mengkritik dan mencaci sang penguasa tidak bisa dikatakan sebagai seorang penyebar propaganda. Seorang pengarang yang menceritakan sebuah kekejaman dalam novelnya bisa dikatakan adalah sebuah kebenaran adanya. Karena kebenaran sastra adalah kebenaran itu sendiri, karena sastra mempunyai dunianya sendiri, yaitu dunia reka atau imaji.

Sebagai sebuah kreasi imaji, karya satra memang tidak mampu menegakkan diri menjadi salah satu pusat legitimasi persoalan-persoalan sosial atau proses-proses institusional masyarakat yang memilikinya. Dunia imaji yang ditata dalam sastra adalah semesta yang menghimpun tak hanya kesadaran akal, namun juga kesadaran batin. Dunia empirik yang adanya tidak dapat dijelaskan oleh katagori sehari-hari yang kita pahami, sebagaimana pengalaman batin dan badan tidak akan pernah kita jelaskan secara menyeluruh. Karakter inilah yang membedakan karya satra dari produk laboratorium, telaah sejarah, atau penyusunan biografi.

Oleh karenanya, pembaca dituntut untuk memiliki persiapan untuk menghadapi karya sastra sehingga mampu untuk memahami maknanya secara maksimal. Posisi persepsi pembaca seperti inilah yang memungkinkan dusta sastra menjelma kebenaran apapun definisinya.

Namun sayangnya, seringkali kita “membunuh” pembaca dengan menyatakan bahwa mereka adalah sesuatu yang naif, polos, dan tak berpamrih. Inilah dusta yang sebenarnya, karena sementara itu, pembaca sebenarnya diam-diam, lewat sejarah membacanya, ia telah menyusun strategi ketika ia mengeksprsikan karya sastra. Lalu kenapa kita tidak mengkuinya?***

*Disampaikan dalam diskusi ces batere magang dasar LPM Hayamwuruk 2004 dan disampaikan lagi pada magang 2005. Judul ini diambil dari kumpulan esai Radhar Pancadahana (Gramedia: 2001?). Makalah ini disusun dari riset berbagai pustaka. Pembaca disarankan untuk membaca lebih lanjut buku-buku terkait.

Advertisements

Pengantar singkat wacana post strukturalisme dalam kesusasteraan

Strukturalisme dibangun atas prinsip Saussure* bahwa bahasa sebagai sebuah sistem tanda harus dilihat ke dalam tahapan tunggal sementara (single temporal plane). Aspek diakronis bahasa, yakni bagaimana bahasa berkembang dan berubah dari masa ke masa, dilihat sebagai bagian yang kurang penting. Dalam pemikiran post strukturalis, berpikir sementara menjadi hal yang utama.

Tokoh utama yang paling berpengaruh pada era kritik sastra post-strukturalis adalah seorang filsuf perancis Jacques Derrida. Selain itu, buah karya pemikiran psikoanalis Jacques Lacan dan ahli teori kebudayaan Michael Foucault juga berperan penting dalam kemunculan post strukturalisme tersebut.

Derrida menekankan “logosentrime” (berpusat pada logos) pemikiran barat bahwa makna dipahami sebagai independensi bahasa yang dikomunikasikan dan tidak tunduk pada permainan bahasa. Derrida sepakat dengan Saussure bahwa bahasa merupakan produk yang berbeda antar penanda, tapi dia berpikir melampaui Saussure dalam menegaskan bahwa dimensi sesaat (temporal dimension) tak dapat ditinggalkan.

Derrida menilai bahwa Saussure tak dapat membebaskan dirinya dari pandangan logosentris, sejak ia mengunggulkan bahasa di atas tulisan. Derrida percaya bahwa penanda (signs) dan petanda (signified) dapat digabung ke dalam tahapan yang sama dalam praktek tindak tutur (act of speaking).

Derrida menyerang pandangan logosentrisme dan menilai bahwa tulisan merupakan model yang lebih baik untuk memahami bagaimana bahasa berfungsi. Dalam tulisan, penanda selalu produktif, mengenalkan aspek sesaat ke dalam penandaan yang menentukan berbagai penggabungan antara sign dan signified.

Perumusan dasar “differance” Derrida disusun dengan mempermainkan pada kata perancis ‘difference’, yang dapat berarti ‘pertentangan’ dan “penundaan”, merusak logonsentrisme dengan menyatakan bahwa makna tak pernah dapat mewakili seluruhnya karena makna tersebut selalu ditangguhkan. Praktik “dekonstruksi ”**-nya ini berdasar pada teks yang dia teliti yang berpengaruh besar pada kritik sastra, misalnya pada New Criticsm.

Essainya yang berjudul “Structure, Sign, and Play in the Discourse of the Human Sciences” , pertama kali disampaikan di John Hopkins University pada tahun 1966, sangat berpengaruh dalam teori kritik sastra.

Essay Roland Barthes, “The Death of the Author” pertama kali dipublikasikan pada tahun 1968, mengadopsi sebuah pandangan tekstual bahasa dan makna secara radikal dan dengan jelas menunjukkan perannya dalam post strukturalis.

Pemikiran post strukturalis juga berkembang di di Amerika pada tahun 1970-an, khususnya di kalangan kritikus yang tinggal di Yale, atau disebut para dekonstrusionis Yale. Teoritikus terkemuka Yale adalah Paul de Man yang berpendapat bahwa teks sastra telah tergabung dengan “pertentangan” Derrida.

De Man berpendapat bahwa ada devisi radikal dalam teks sastra antara gramatikal atau struktur logika bahasa dan aspek retorisnya. Hal ini menciptakan sebuah signifikansi (penandaan) dalam teks sastra yang pada akhirnya tak dapat ditentukan. De Man berpendapat bahwa sastra digabungkan oleh permainan (play) yang tak dapat ditentukan secara gramatikal dan retoris dalam teks dan tidak dengan pertimbangan estetis.

Edward W Said menerima pandangan post strukturalis tapi menolak pada apa yang dia lihatnya sebagai pendekatan tekstual sempit ala Derrida. Dia berpendapaat bahwa karya Foucault memungkinkan kritik sastra melampaui dimensi sosial dan politis teks.

Catatan:
* Ferdinand de Saussure, 1857-1913, dari sinilah kemudian berkembang “gerakan” strukturalisme Prancis. Sebagaimana filsuf Prancis sezamannya, filsafat Derrida tak lepas dari linguistik, terutama linguistik modern yang diperkenalkan Ferdinand de Saussure.
** Konsep dekonstruksinya (Derrida sendiri menolak merumuskan dekonstruksi sebagai konsep, teori, atau semacamnya) telah mewarnai wacana pemikiran di berbagai bidang, dari sastra hingga tata busana, dari senirupa hingga arsitektur. Dekonstruksi selalu menyertai wacana pemikiran filsafat kontemporer seperti struturalisme, pascastrukturalisme, pasacamodernisme, pascakolonialisme, teori kritis, dan kritik baru (new criticism).

Ketika teks terlahir, maka pengarang telah tiada. Dia digantikan oleh pembaca yang bebas menafsirkan teksnya.

Ketika membaca sebuah cerita, novel atau cerpen, muncul pertanyaan siapa sebenarnya yang tengah berbicara? Apakah sang hero, sang tokoh sebagai individual, ataukah sebenarnya suara pengarang sendiri yang disusupkan melalui suara tokoh-tokohnya maupun melalui sang narrator?

Sang tokoh sebagai individu yang tengah memperjuangkan ideologi, misalnya, marxis, atau mungkin sang pengarang yang membela ideologi kaum feminis?

Dikatakan oleh Roland Barthes dalam esainya The Death of The Author bahwa ketika pengarang menulis karyanya, maka sebenarnya dia (pengarang) telah mati. Dia terpisah dari teksnya. Teks tersebut sekarang sudah bukan miliknya lagi.

Pengarang adalah figur modern yang merupakan produk dari masyarakat sejak jaman pertengahan Empirisme Inggris, Rasionalisme Prancis, maupun yang lainnya. Dari sana Sastra kemudian menganut prinsip positivism.

Berdasar prinsip positivsm tersebut, hanya berlaku kebenaran tunggal, seperti yang berlaku pada kebenaran dogmatis agama. Dalam hal ini kebenaran versi pengarang memiliki kedudukan yang setara dengan kebenaran tuhan seperti dalam agama. Pengarang sebagai penyampai pesan tuhan (The massanger from God).

Akibatnya, pengarang mendapat porsi yang berlebihan. Apa yang disampaikannya adalah kebenaran. Kebenaran yang tak dapat dibantah lagi. Pun demikian teks yang dihasilkan, tak dapat dibantah oleh pembaca siapapun.

Secara kebahasaan, pengarang tak lebih hanya sebuah tulisan siap saji (instance writing). Seperti kata “I” tak lebih dari tulisan I, bukan pengarang yang sebenarnya. Bahasa mengetahui subyek bukan orang. Ia kosong, tak berarti apa-apa, di luar ucapan yang ditentukan. Pembacalah yang kemudian akan mengisi kekosongan ini, memaknai I menurut pemahamannya masing-masing, menurut kepentingannya masing-masing pula.

Penghapusan sang pengarang dimaksudkan untuk membebaskan teks dari pengarang. Ada jarak antara pengarang dengan teks. Ketika teks itu terlahir, maka teks tersebut sudah terpisah dari pengarangnya. Ada sifat temporal.

Dalam grafik berikut ini menjelaskan tentang konsep tersebut:

Buku dan pengarang berada dalam garis lurus terbagi antara sebelum (before) dan (sesudah). Pengarang saat ini mungkin akan berbeda dengan pengarang yang dulu, ketika menulis buku. Apa yang diyakininya sekarang bisa jadi tidak sama persis dengan yang dimilikinya dulu, bahkan sudah berubah.

Dari grafik di atas juga bisa dijelaskan bahwa garis yang memisahkan antara before dan after benar-benar memisahkan antara author dan book. Keduanya memiliki dunianya masing-masing. Maka setelah melewati batas itu, book yang dihasilkan oleh sang author sudah menjadi produk lain, yang bukan miliknya lagi.

Teks bukan merupakan sederatan kata yang mempunyai arti teologis (pesan pengarang dari tuhan) tapi dilihat secara multidimensional sebagai sebuah variasi bentuk penulisan. Teks tersebut tak pernah asli. Begitu juga teks yang ditulis oleh pengarang. Ia hanya tiruan dari apa yang dilihat dan dirasakan oleh pengarang. Pengarang hanya menerjemahkan dari apa yang dibacanya, bukan menyalin arti yang sebenarnya.

Dengan kata lain, hidup tak lebih dari meniru buku. Dan buku itu sendiri hanya merupakan sebuah tisu tanda, dan tiruan yang hilang, yang tertangguhkan maknanya.
Pembaca adalah pembaca yang tengah membaca teks secara utuh, tanpa ada yang dihilangkan. Kesatuan teks berada pada keasliannya bukan pada tujuan dibalik teks itu sendiri. Pembaca bukan dirinya yang sebenarnya. Dia adalah orang yang tengah membaca teks yang entah siapa pengarannya. Seperti yang dinyatakan dalam kutipan di bawah ini.

“…The reader is the space on which all the quotations that make up a writing are inscribed without any of them lost; a text’s unity lies on its origin but its destination.

Ketika pengarang dihapuskan, teks menjadi bebas. Menyerahkan teks pada pengarang hanya akan membatasi kebebasan teks. Karena teks bersifat tidak terikat. Ia hanya sederetan abjad yang kosong tak berarti apa-apa. Pembacalah yang kelak akan mengisinya, memenuhi gelas yang masih kosong itu, dengan pengalaman dan kepentingannya masing-masing.

Ibarat sebuah buku, buanglah sampulnya. Hapus nama pengarangnya. Cukup ambil isinya, tak usah lagi dipikirkan siapa pengarangnya.

Pandangan ketika author ditemukan maka teks akan berbicara mengahadapi dilema karena author sendiri sebenarnya juga bagian dari masyarakat, dari obyek yang dikritik. Pengarang sendiri tidak bebas nilai. Dia bias. Dia tak pernah bisa obyektif. Lalu bagaimana teksnya akan ditempatkan sebagai sebuah kebenaran tunggal?

Itulah sebabnya mengapa sastra (akan lebih baik bila sekarang menyebutnya tulisan) menolak untuk memberikan rahasia, makna yang diagung-agungkan, membebaskan dari apa yang disebut aktivitas antiteologi, gerakan revolusioner yang menolak kebenaran mutlak, yang pada akhirnya menolak kebenaran Tuhan dan hipotesisnya.

Peristiwa kematian pengarang ini pada sisi lain akan dibarengi dengan kelahiran pembaca. Pembaca adalah orang yang berhak menerjemahkan teks. Teks bersifat tidak terikat. Maka akan sangat mungkin terjadi multitafsir antara satu pembaca dengan pembaca lainnya. Ini tak masalah.

Pembaca dengan segala pengalaman membacanya, sebenarnya diam-diam telah menyususun strategi unuk mencari kebenaran sesuai yang dikehendakinya. Lalu kenapa kita masih sering manafikan kehadiran pembaca itu? Maka biarlah teks yang berbicara. Biarlah pembaca sendiri yang memaknainya, memenuhi gelas yang masih kosong itu.

dari kamar gelap

memungut yang terjatuh. menyusun kembali yang teralpa. mengabadikannya ke dalam tulisan. seperti ungkapan "Scripta manent verba volant" uang--tertulis akan tetap mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin. selamat menikmati!

yang terkubur